Andai saja bisa ku ulang waktu yang telah berlalu dengan sia-sia
Mungkin takkan ada tetesan airmata penyesalan
Bukan maksudku menyalahi takdir-Mu
Tapi kenapa selalu saja ada tangis ditiap garis yang telah Engkau
tuliskan
Kenapa tidak Engkau lembutkan saja jalannya
Dan kenapa harus ada kerikil tajam disepanjang jalan yang akan ku
lalui
Lalu harus bagaimana aku?
Berdiam atau terus berjalan meski harus tertusuk karenanya
Mana yang pantas aku dulukan , putih diatas hitam atau hitam
diatas putih
Lelah rasanya ketika harus kutapaki jalanan nan panjang yang tiada
usai sendirian
Untuk apa melangkah begitu jauh sementara aku sendiri tak tau arah
dan tujuannya
Akan ku persembahkan untuk siapa lelahku ini?
Dimana harus ku singgah sementara ia terus diam dan membisu
Keringatku terus mengalir membasahi tubuh layuku yang rapuh
karnamu
Masih berapa lama lagi dan berapa panjang lagi langkah menyusuri
tepian hati dengan laut yang tak berombak dan angin yang tak terasa
Jikalau hanya diam yang mereka tunjukkan untuk apa aku terus
bercerita akan keadaanku yang memilukan
Iba atau acuhkah kalian?
Bilang saja jika kalian ingin aku pergi sejauh mata memandang
Usah kau palingkan aku pada mereka yang tak memperdulikan aku
Tetaplah disisi , biar aku yang berhenti mengarungi
Karena kini ku lelah , lelah akan harapan dan kepastian yang
kosong
Mohon jangan terus permainkan aku dan perasaan ini
Sudah cukup bagiku menangis seorang diri dalam sunyinya hati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar