Hari ini aku bertanya kepada diriku sendiri
Pertanyaan sederhana namun tak sederhana untuk menjawabnya
Tentang sebuah balas budi dan janji - janji bakti
Mungkinkah dapat kupenuhi untuk semua harapanmu ?
Ibu...
Mungkin aku tidak tau hari dimana engkau dilahirkan
Aku juga tidak melihat seperti apa sosok kecilmu dulu
Tapi aku yakin , hari itu adalah hari yang indah
Dimana mentari membalutkan kehangatannya
Dan jagat seisinya melesungkan pipi karna kehadiranmu
Wanita mulia...
Ingin kusajakkan senyummu , sembari kupilih ribuan kata
Tetapi tak jua bisa kurangkai kalimat sempurna untukmu
Jika engkau berkenan ,
Baca saja rangkaian prosa diraut wajahku
Dan biarkan aku memingit puisi ini dihati
Aku mengenal kasihmu dengan sendiriku
Tanpa acuan dan referensi
Tapi karnamu aku jadi bisa mengenal rindu
Rindu yang kuyakini akan abadi hingga nafasku terhenti
Ibu...
Bolehkah aku merayumu , berbaring dipangkuanmu seraya mengadu hari - hari lelah ku
Mengadu tentang keras dunia yang tak berkesudahan
Ingin kupertanyakan mengapa diluar sana tak ku temukan keikhlasan ?
Bolehkah acap kali aku membasahi pangkuanmu dengan airmataku ?
Katakanlah...
Bahwa aku adalah tokoh dalam dongengmu
Putri yang kau puji karna nurani
Mengenai perahu yang tak kunjung menepi , pantaskah untuk dinanti ?
Ibu... Malin kundang telah menjadi batu
Akankah usai ceritamu ?
Lalu bagaimana dengan harapanku yang ingin membangun istana salju yang menyejukkan setiap manusia seperti yang ada dalam dongengmu ?
Aku tau , selamanya dimatamu aku adalah ranting kecil yang selalu kau khawatirkan akan rapuh dan patah
Aku memang lemah...
Tetapi sesungguhnya aku ingin melindungimu dari sedih nestapa
Usiamu kini tak lagi muda , tapi aku belum bisa apa - apa
Meski hanya sekedar untuk membelikanmu kasur kapuk
Bukankah seyogyanya kita mencintai kesahajaan dan membenci kemunafikan ?
Maka menagislah buu , jika tabiatku berbaju tebal keangkuhan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar