Semalam aku demam sayang...

Ada gigil yang menggunung , memuncak bermandikan keringat
Aku tak henti mengigau seolah membisikkan sesuatu kepadamu
Mengharap kamu datang membawa minuman hangat lengkap dengan selimutnya kemudian membalutkannya ke tubuhku
Aku yakin ini pasti rindu...
Alangkah naifnya demamku semalam
Meski darinya aku tersiksa , namun sebagiannya lagi menjadi hangat sehangat nafasmu
Ada yang hendak datang...
Dia itu mimpi , mimpi yang menerangi tidur gelapku dengan cahaya kunang - kunang yang penuh misteri
Memutar kembali ke titik nok dan seperti membawa hari baru
Aku menangkap sekelumit isyarat...
Adalah tiada yang lebih ranum dari kerlip sii kumbang dengan seribu keelokan
Yang membawaku kembali menyusuri masa yang mengapung dalam hidupku
Terang saja , kehidupan jelas tak pernah diam ditempat
Bagaimanapun ia terus melingkar sesuai garis Tuhan
Sejatinya warna warni kehidupan memang patut kita rayakan
Ungkapannya selalu saja manis
Barangkali ini menjadi sebuah nasihat kecil untukku
Bahwa aku tidak boleh terus melekat didedaunan juga tanah
Akan tetapi harus mampu mengepakkan sayap mimpi lewat harap dan do'a
Menyinari gelap yang usang dan menjadi paling terang
Juga menemani terang untuk menjadikannya terang seterang - terangnya
Meski kecil dan rapuh...
Meskipun tak sebesar genggaman tangan , tak seramai warna pelangi
Tak semendung mega dan tak sekuning mentari
Bukankah kita sama , sama - sama ciptaan Tuhan...
Dan sayang...
Kini aku tebangun dan kembali dalam kisah nyata
Nyata - nyatanya sampai detik ini kursi ku masih kosong karna kamu belum kembali
Masih gelap karna kunang - kunang ku tak kunjung tiba
Barangkali kamu akan menjadi kunang - kunang terakhir dikota ini
Pada akhirnya yang tak kunjung terwujud adalah berjalan menyisir teluk kemudian menyaksikan ribuan kunang - kunang terbang nyaris menyentuh permukaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar