Alunan kisahku kian deras mengalir , lirih dan perih
Aku tidak akan berpaling ketika sayapmu patah
Jadi mohon jangan lepaskan aku begitu saja
Aku tau matamu kini mulai lelah membaca asmara dalam aksara
Terlalu dalam hingga menghanyutkanmu bagai sampan tak berdayung
Maafku untukmu yang telah tersudut
Raut wajahmu mulai memerah , terbungkus kecewanya amarah
Tenang saja , sajakku ini bukan gertakan angkuh
Meski tak beraturan , tapi katanya ku petik dari hatiku sendiri
Duhai lelaki yang bermata jeli...
Sajakku ini sederhana , tak saling memaksa meski terpatri rasa
Kamu tau ?
Telah nyeri seluruh sendi melebur bersama batas kenangan ditiap ujung jalan akan tetapi jejakmu tak kunjung ku dapati
Sosokmu begitu berbeda , terpupuk indah namun tak mampu tersentuh
Tak bisa kupungkiri bahwa kini otakku teracuni
Berkali - kali terlintas dikepalaku , inginku katakan inilah aku
Aku yang sama sekali berbeda...
Walaupun ceritanya telah berlalu , tapi kisahnya masih mampu ku bahasakan
Masih mampu kuletakkan kata disudut beranda , dimana kau biasa ada...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar