Mungkin setelah aku tiada kamu akan mengerti , betapa sulitnya menahan setiap tetes airmata
Jika aku bukan pilihanmu pada akhirnya , mungkin keras kepalaku memperjuangkanmu akan kamu ingat selamanya
Sebelum kamu melambaikan tangan telah aku siapkan sepasang lengan untuk sejenak memeluk kehilangan
Telah ku siapkan bahu , lekas sandarkan sedihmu , biarlah aku merawatnya hingga habis putaran waktu
Puisi dan kesepian seperti malam dan kebekuan , diantaranya kita berjalan saling meninggalkan
Aku menghiasi puisi sedemikian rupa , tetapi lukanya terlalu dalam untuk ku sembunyikan kata - kata
Maaf sayang , jika puisi ini menyakitimu...
Mungkin benar katamu , aku tak mempunyai cinta...
Perjanjian yang tak kutandatangani adalah perpisahan ini , karena jarak dan waktu yang menengahi aku dan hatimu
Dipelupuk mimpi kerap ku temui isak menyiksa diri , tentang kau yang berlalu pergi melepas genggaman jemari
Aku melambaikan tangan , tersenyum menikmati perpisahan
Tak pernah ku rekayasa rasa yang ada dihati , dan aku tetap disini sampai kau tak merindui lagi
Disajak yang pernah aku tulis , aku kembali mencari masa lalu tapi tak kutemukan apa - apa selain rindu
Ketika perpisahan menjadi jawaban , aku berhenti mempertanyakan tentang mu juga cinta itu
Meski sama - sama terdiam , belum tentu sama yang kita rasakan
Hargai ! Bahwa waktuku tak akan berbalik
Bawa aku kejinggamu senja , sejenak ingin ku sendiri , menikmati sepi yang menyelimuti hati
Barangkali disana dapat kutemui bayangku disendu matamu
Tinta kita belum habis , pena kita belum keropos , belum saatnya berhenti menulis , masih amat luas kertas yang polos
- Lembar Puisi -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar