Aku tak pernah sesedih ini . Kupikui waktu waktu yang kubutuhkan untuk melupakanmu juga tak akan sepanjang ini . Aku salah besar , hari - hari yang kulalui bersama dengan usahaku untuk melupakanmu tak kunjung menemui titik temu . Kamu masih jadi segalanya , masih berdiam dikepala dan masih jadi yang terpenting dihati . Maaf , jika segala kejujuranku terdengar bodoh , sebentar lagi pasti kamu akan berkata bahwa sikapku berlebihan . Seandainya sekarang aku berada disampingmu , akan kuceritakan sebuah kisah tentang melupakan dan mengikhlaskan . Sungguh dua hal itu bukanlah hal yang mudah .
Hitungan tahun harusnya menjadi waktu yang amat cukup untuk menghilangkan perasaan . Namun ternyata aku tak masuk dalam pernyataan itu . Hari berganti minggu dan sosokmu masih jadi penunggu , menyergap perhatianku , menguji imanku , dan merontokkan kepercayaanku . Tubuhku dingin dan menggigil saat menghadapi perpisahan . Aku tak punya banyak pelukan hangat , sehangat rangkulmu yang melingkar manis dibahuku .
Sekali lagi aku katakan , melupakan tak akan pernah mudah . Merelakan yang pernah ada menjadi tidak ada adalah kerumitan yang belum tentu kamu tau rasanya . Aku menulis ini saat aku telah lelah dihajar kenangan . Mengapa diotakku , kamu tak pernah hilang barang sedetik saja ? Kamu sangat luar biasa dimataku . Dulu dan sekarang , tetap sama . Dan terkadang aku masih masih menangisi juga menyesali yang sempat terjadi . Bertanya - tanya dalam hati menga semua berakhir sesakit ini ? Apa tujuanmu menyakitiku jika dulu kita pernah menjadi belahan jiwa yang enggan melepaskan ? Aku tak tau sedang apa kamu disana . Segala ketidaktauanku mengantarkan perasaanku pada perasaan asing , rindu yang semakin hari semakin berontak , rindu yang meminta pertemuan nyata , rindu yang memaksa dua orang yang berjauhan untuk saling berdekatan .
Kalau kamu berada disampingmu sekarang , ingin rasanya aku mengulang segalanya . Kuhentikan waktu , kuhentikan detak jarum semauku . Agar yang hadir dalam hari - hariku hanyalah kamu , hanyalah kita dan hanyalah bahagia tanpa airmata . Seandainya hal itu bisa kulakukan , mungkin sekarang aku tak akan merindukanmu sesering dan sedalam sekarang .
Terakhir kita bertemu , ketika kita memutuskan untuk mengakhiri segalanya . Ketika pelukmu tak lagi kurasakan , dan ketika akhirnya kita memilih untuk berjauhan . Semuanya begitu berbeda . Perbedaan yang berulang kali berusaha kupahami , namun tak kunjung ku mengerti . Bisakah kamu membantuku untuk memudahkan segalanya ? Agar aku bisa menerima , bisa merelakan dengan sangat gampang .
Mengapa aku terlalu bodoh untuk membaca hal itu dari awal ? Apa karena kamu terlalu berkilau ? Hingga mataku terlanjur buta dan telingaku seketika tuli .
Berhentilah menyiksaku dengan segala macam rindu dan kenangan , atau mungkin aku yang menyiksa diriku sendiri karna tak mampu melupakanmu ? Ah , sudahlah . Aku cuma ingin memberitahu kita sudah sangat lama berpisah dan berjalan sendiri - sendiri . Jadi , apakabar kamu sekarang ? Apakah kamu masih semanis dan semenyenangkan dulu ? Ataukah kamu yang sekarang adalah kamu yang tanpa topeng dan kamu yang jauh berbeda dari yang kukira .
Aku benci harus mengakui ini . Aku sering merindukanmu dan memendam perasaanku . Tersiksa dengan angan sendiri . Mengiris hati dengan kemauan sendiri . Aku ingin mengaku ( dengan sangat terpaksa ) bahwa aku masih mencintaimu dan berharap kamu kembali , meskipun hanya untuk menenangkanku dan berkata bahwa segalanya akan baik - baik saja .
Dikutip dari tulisa Dwitasari " Lima minggu setelah kepergianmu "
Tidak ada komentar:
Posting Komentar