Kamu adalah apa yang aku tulis , tapi aku adalah yang selalu luput kamu baca

Toad Jumping Up and Down

Minggu, 20 Oktober 2013

Dusta terindah


Aku menulis ini ketika aku mulai tersadar bahwa tidak ada yang bisa aku kembalikan seperti dulu lagi , kecuali dengan kehendak Tuhan . Aku menulis ini ketika aku berfikir pasti disana kamu sudak menemukan kebahagian yang lain . Kebahagian yang jelas tidak pernah kamu dapat dari aku , sewaktu dulu . Mungkin benar adanya jika kepekaanku teramat minus dan pada akhirnya membuat kamu pergi menjauh . Andai saja waktu bisa kuputar ulang , aku akan menahanmu pergi hingga aku sendiri bosan dengan usahaku .

Dulu , kamu mengetuk pintu hatiku dan aku mengizinkan kamu untuk berdiam disana . Kamu tak tau betapa aku tergoda akan kehadiranmu . Kamu tak sadar betapa aku inginkan sebuah penyatuan meskipun kita berbeda . Sunggu bodoh ! Mengapa begitu mudahnya menjatuhkan airmata untuk kamu yang belum tentu menangisiku ?! Mengapa rindu begitu tega menjadikanmu sosok yang paling sering kusebut dalam do'a ? Mengapa cinta begitu tak masuk akal ketika perkenalan ternyata berakhir menjadi hal yang tak kuduga ? Kamu tak tau betapa sulitnya melupakan perasaan yang telah melekat . Betapa tidak mudahnya menghilangkan kamu dari hati dan otakku . Cinta ini datang begitu mudah dan entah mengapa membenci begitu sudah .

Jika kamu ingin tau seberapa dalam perasaanku , cinta ini seperti airlaut yang enggan surut . Aku telah tenggelam , sementara kamu yang berada dipesisir pantai hanya bisa melambaikan tangan dan menertawakan kesesakanku . Apa yang kamu anggap lucu dari perasaan ini ? Mengapa kamu begitu mudah menjadikan perasaanku sebagai candaan yang kamu pikir bisa membuatku tertawa ?

Sinaran pesonamu membutakan segalaku . Begitu mudah aku terjebak dalam bayang - bayang yang kupikir nyata . Begitu gampangnya aku terjerumus pada kesemuan yang tak pernah jadi kenyataan . Harus kularikan kemana cinta yang makin dalam ini ? Harus kubunag kemana rindu yang selalu berujung pada airmata ini ?  Haruskah aku bilang padamu , dengan mata yang sembab , dengan rambut yang berantakan , dengan wajah yang begitu lelah ; hanya untuk memintamu kembali ?

Pertanyaan ku tentangmu telah terjawab . Bahwa kamu tak punya perasaan sedalam yang aku berikan . Kamu tak merindukanku sedalam yang sering aku lakukan . Dan kamu tak ingin menjadikanku yang terakhir . Hmmm... pernahkah kamu merasakan menjadi sosok yang selalu diletakkan dinomer sekian ? Yang tetap mencintaimu meski tersakiti ? Yang tetap mengabdi walau dilukai ?

Andai saja semua bisa kembali seperti dulu lagi . Seandainya rangkul pelukmu masih sehangat yang kurasakan . Mungkin aku tak akan sesedih ini , tak akan seberantakan ini dan tak akan segila ini .

Kalau kamu ingin pergi , maka pergilah . Tapi berjanjilah padaku ; aku adalah perempuan terakhir yang kamu sakiti . Setelah ini , pergilah pada ibumu dan cintai beliau dengan keulusan . Agar kamu bisa mencintai perempuan yang lain dengan ketulusan yang sama . Katakan padaku , kamu akan menganggap kata sayang adalah kata yang sakral sehingga kamu tidak mengatakannya hanya untuk menyakiti seorang perempuan . Berjanjilah padaku ; setelah ini kamu benar - benar pergi , mencari perempuan baru untuk kamu beri kebahagiaan  , bukan tangisan . Katakan padaku , jika kamu tak mampu melakukan hal itu , aku bisa membantumu , tapi kamu kembali dan mau kuajak saling memahami .

Suatu saat nanti , kita akan bertemu dengan kebahagiaan masing - masing . Kamu merangkul kekasih barumu dan memperkenalkannya padaku . Aku menggenggam erat jemari kekasihku yang berhasil menghapus mendung dihari - hariku . Lalu kita menertawakan masalalu , betapa dulu aku dan kamu pernah begitu lucu .

Kemudian lukaku bisa kamu jadikan stand up comedymu . Tertawakan aku sepuasmu . Setelah itu , kumasukkan kamu dalam sebuah tulisan , kusiksa kamu sampai jera , kubiarkan kamu jadi tokoh tertawa lebih dulu tapi menangis sekencang - kencangnya diakhir cerita . 

Terimakasih untuk tawa yang kamu titipkan pada tiap candaanmu diujung malam . Sekarang aku sadar , betapa sosok yang pernah membuatku tertawa paling kencang , juga adalah pria yang membuatku menangis paling kencang .






Dikutip dari tulisan Dwitasari " Empat minggu setelah kepergianmu "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar