Aku menulis ini ketika aku mulai tersadar bahwa tidak ada yang bisa aku kembalikan seperti dulu lagi , kecuali dengan kehendak Tuhan . Aku menulis ini ketika aku berfikir pasti disana kamu sudak menemukan kebahagian yang lain . Kebahagian yang jelas tidak pernah kamu dapat dari aku , sewaktu dulu . Mungkin benar adanya jika kepekaanku teramat minus dan pada akhirnya membuat kamu pergi menjauh . Andai saja waktu bisa kuputar ulang , aku akan menahanmu pergi hingga aku sendiri bosan dengan usahaku .
Dulu , kamu mengetuk pintu hatiku dan aku mengizinkan kamu untuk berdiam disana . Kamu tak tau betapa aku tergoda akan kehadiranmu . Kamu tak sadar betapa aku inginkan sebuah penyatuan meskipun kita berbeda . Sunggu bodoh ! Mengapa begitu mudahnya menjatuhkan airmata untuk kamu yang belum tentu menangisiku ?! Mengapa rindu begitu tega menjadikanmu sosok yang paling sering kusebut dalam do'a ? Mengapa cinta begitu tak masuk akal ketika perkenalan ternyata berakhir menjadi hal yang tak kuduga ? Kamu tak tau betapa sulitnya melupakan perasaan yang telah melekat . Betapa tidak mudahnya menghilangkan kamu dari hati dan otakku . Cinta ini datang begitu mudah dan entah mengapa membenci begitu sudah .
Jika kamu ingin tau seberapa dalam perasaanku , cinta ini seperti airlaut yang enggan surut . Aku telah tenggelam , sementara kamu yang berada dipesisir pantai hanya bisa melambaikan tangan dan menertawakan kesesakanku . Apa yang kamu anggap lucu dari perasaan ini ? Mengapa kamu begitu mudah menjadikan perasaanku sebagai candaan yang kamu pikir bisa membuatku tertawa ?
Sinaran pesonamu membutakan segalaku . Begitu mudah aku terjebak dalam bayang - bayang yang kupikir nyata . Begitu gampangnya aku terjerumus pada kesemuan yang tak pernah jadi kenyataan . Harus kularikan kemana cinta yang makin dalam ini ? Harus kubunag kemana rindu yang selalu berujung pada airmata ini ? Haruskah aku bilang padamu , dengan mata yang sembab , dengan rambut yang berantakan , dengan wajah yang begitu lelah ; hanya untuk memintamu kembali ?
Pertanyaan ku tentangmu telah terjawab . Bahwa kamu tak punya perasaan sedalam yang aku berikan . Kamu tak merindukanku sedalam yang sering aku lakukan . Dan kamu tak ingin menjadikanku yang terakhir . Hmmm... pernahkah kamu merasakan menjadi sosok yang selalu diletakkan dinomer sekian ? Yang tetap mencintaimu meski tersakiti ? Yang tetap mengabdi walau dilukai ?
Andai saja semua bisa kembali seperti dulu lagi . Seandainya rangkul pelukmu masih sehangat yang kurasakan . Mungkin aku tak akan sesedih ini , tak akan seberantakan ini dan tak akan segila ini .
Kalau kamu ingin pergi , maka pergilah . Tapi berjanjilah padaku ; aku adalah perempuan terakhir yang kamu sakiti . Setelah ini , pergilah pada ibumu dan cintai beliau dengan keulusan . Agar kamu bisa mencintai perempuan yang lain dengan ketulusan yang sama . Katakan padaku , kamu akan menganggap kata sayang adalah kata yang sakral sehingga kamu tidak mengatakannya hanya untuk menyakiti seorang perempuan . Berjanjilah padaku ; setelah ini kamu benar - benar pergi , mencari perempuan baru untuk kamu beri kebahagiaan , bukan tangisan . Katakan padaku , jika kamu tak mampu melakukan hal itu , aku bisa membantumu , tapi kamu kembali dan mau kuajak saling memahami .
Suatu saat nanti , kita akan bertemu dengan kebahagiaan masing - masing . Kamu merangkul kekasih barumu dan memperkenalkannya padaku . Aku menggenggam erat jemari kekasihku yang berhasil menghapus mendung dihari - hariku . Lalu kita menertawakan masalalu , betapa dulu aku dan kamu pernah begitu lucu .
Kemudian lukaku bisa kamu jadikan stand up comedymu . Tertawakan aku sepuasmu . Setelah itu , kumasukkan kamu dalam sebuah tulisan , kusiksa kamu sampai jera , kubiarkan kamu jadi tokoh tertawa lebih dulu tapi menangis sekencang - kencangnya diakhir cerita .
Terimakasih untuk tawa yang kamu titipkan pada tiap candaanmu diujung malam . Sekarang aku sadar , betapa sosok yang pernah membuatku tertawa paling kencang , juga adalah pria yang membuatku menangis paling kencang .
Dikutip dari tulisan Dwitasari " Empat minggu setelah kepergianmu "
Tidak ada komentar:
Posting Komentar