Awan mendung yang terlihat kusam meampakkan diri seakan memberi tanda bahwa hujan akan menghampiri
Gerimis kecil mulai turun membasahi segala yang mulai kering , tandus dan gersang
Aroma khasnya pun turut serta
Tanah yang dulunya mengering akhirnya lembab setelah dibanjiri rintikan air yang tak terhitung banyaknya
Pohon yang tidak berdaya dan nampak layu kini terbangun dan terlihat segar
Sekejap sebagian burung beserta anaknya menepi mengindari guyuran air dari Sang Maha Cipta
Aku beranjak dari tidur siangku karna kamarku terasa gelap kemudian menyalakan lampu sebagai penerang
Lantas aku mengikat rambut panjangku dan duduk dikasur kesayanganku
Mataku melihat nanar , seperti separuh nyawaku masih berada dalam alam mimpi
Aku mengusap mataku yang masih sayu dan sedikit enggan untuk terbuka
Rasa kantukku sepertinya memang belum sirna hingga melemaskan tubuhku
Dibalik daun jendela dari kejauhan aku melihat sesosok bayangan dibawah rinai hujan sedang luruh bersama airnya yang semakin deras mengalir
Sejenak kupejamkan mataku lalu aku coba menyibukkan diriku bersama fikiran yang memaksaku untuk mengurai siapa sosok itu
Kubuka mataku yang tertuju pada sudut yang sama untuk melihatnya dalam kali kedua
Namun entah mengapa bayangan itu dengan begitu cepat luput dari pandanganku
Jatungku berdedup kencang dan ada sedikit sesal dibenakku
Yaa... karna aku belum tau siapa sii misterius yang tiba - tiba muncul dari balik jendelaku yang tertutup embun
Mungkin hanya halusinasiku...
Tapi sepertinya tidak , sepertinya tidak asing lagi bagiku
Tapi siapa ?
Mengapa tidak menghampiri aku meski hanya menanyakan kabarku ?
Mengapa tidak memberiku senyum simpulnya saat melihatku yang jelas - jelas menatap tajam ?
Mengapa pergi tanpa pamit dan berlalu begitu saja ?
Aku harap mata dan fikiranku yang salah
Aku harap begitu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar