Bulan keempat
Di
Telaga hati
Selamat senja untuk kalian para
penyelam impian yang tak pernah usai...
Hari
ini aku kembali dari petualangan liarku. Membawa sejuta melankoli langkahku
yang tak jua bertepi. Menggapai impian
yang tak kunjung berada digenggaman. Melawan terpaan badai yang kian menggila.
Tapi disini, aku masih menjadi aku yang dulu. Aku yang menyimpan rapi semua
rekaman saat – saat kebersamaan kita. Disini, dihati aku masih mematri ribuan
tawa renyah harapan juga tangis pilu kehilangan yang setia kulilit pita merah
jambu. Mungkin kapal akan tetap aman bila berada didermaga. Namun bukan itu
tujuannya dirakit. Sebab hidup jelas tidak boleh diam ditempat. Meski harus
menukar peluh dengan darah jangan berhenti ditengah perjalanan. Jadi, sudah
sejauh mana kakimu melangkah menggapai asa duhai sahabat sejiwa? Dulu, berpura
– pura menjadi tokoh utama dalam drama
yang pernah kita perankan bersama. Berganti topeng dan warna melakoni berbagai
macam watak manusia. Mengikuti alur yang sudah tertulis sebagai jalan cerita.
Entah merenda suka, pun duka nestapa. Lantas bagian mana yang tidak bahagia
ketika perjalanannya sedemikian berwarna?
Duhai sahabat yang menjadi duniaku...
Saat
ini kita sudah menapaki kehidupan yang sesungguhnya. Bukan lagi drama namun
nyata. Mendewasakan diri atas segala masalah yang Tuhan beri. Tujuannya adalah
untuk menguji sekuat mana kita mampu berdiri. Seperti kata pepatah “ Jikalau
takut terhempas ombak, maka jangan membangun rumah ditepi pantai “. Tapi aku
tidak takut menghadapi serangan dari luar yang mungkin tak dapat aku hindari.
Adalah bersamamu...
Tidak hanya disampingku, namun juga
dalam hatiku.
Wahai sahabat, seseorang yang mampu
mengatakan hal yang tak pernah ingin aku katakan...
Tuhan
tidak pernah menjanjikan suatu pelayaran yang indah. Tapi Tuhan akan memberikan
sebuah pelabuhan yang meneduhkan. Hidup tidak selalu seindah pelangi. Pada
kenyataannya kita sendiri yang harus mencari kekuatan untuk mengarungi hamparan
samudera.
Duhai sahabat perajut kekuatan
hati...
Kita
sudah berjanji bukan? Akan berada dalam satu rasa menghadapi kegagalan yang
selalu datang tiba – tiba. Bergandengan tangan saling menguatkan lewat do’a dan
pengharapan. Jangan khawatir, Tuhan akan menilai setiap usaha kita. Sehingga
setiap kegagalan menjadi teguran atas kemalasan kita.
Wahai sahabatku...
Tidak
ada duka yang abadi. Jika Tuhan sudah berkehendak semua airmata akan berganti
menjadi nikmat yang luar biasa. Barangkali kesedihan dan kegundahan adalah cara
Tuhan melatih diri kita agar selalu bersabar. Saat ini raga kita memang
terpisahkan oleh jarak dan waktu. Akan tetapi jangan sampai rantai persahabatan
yang telah kita rangkai menjadi lepas dan terpisah satu per satu. Mungkin kita
tidak akan melepaskan. Namun keadaan lah yang perlahan melepaskannya. Aku dan
kamu sama – sama saling menyadari bahwa ada mimpi yang harus dikejar. Kita
bukan mahasiswa lagi yang dipenuhi setumpuk buku. Yang bisa melakukan hal – hal
gila sembari menghabiskan malam yang dingin. Kita dipertemukan oleh waktu, dan
pada akhirnya waktu jualah yang akan memisahkan kita. Jika memang benar – benar
sahabat, kita tidak akan bicara soal jarak. Tetapi hati dan rasa saling
memiliki.
Duhai sahabat, seseorang yang datang
ketika seluruh dunia meninggalkanku...
Adakalanya
ketidakcocokan membuat hubungan kita saling acuh dan melelahkan. Tapi bukankah
kita juga sudah sepakat bahwa persahabatan adalah perkara saling melengkapi.
Saling mengisi rindu dan kekosongan. Saling berharap juga mengharapkan. Saling
berbagi juga membagi. Juga saling menangis dan menangisi. Jika ada tabiatku
yang membuatmu kecewa, bahasakan saja kecewamu. Jangan diam, tetapi duduk dan
saling bincang.
Duhai sahabat yang kini berbeda dimensi
dan waktu...
Kini
kau telah terbang bersama sejuta mimpi yang juga kau ajak pergi. Meninggalkan
semua kenangan yang kau kemas dengan balutan air mata kepergian. Membawa
catatan kecil yang menguap bersama bayangan. Mungkin disana diatas mega, engkau
sedang menari bahagia. Menatapku dari langit ketujuh. Lalu aku? Disini aku
duduk seorang diri dibangku taman jalan Turi. Membawa potongan – potongan kenangan
yang coba kembali ku sulam. Bersama benang kenangan dan jarum harapan yang
berdampingan menjadi satu kesatuan.
Tuhan sudah memelukmu dengan erat.
Menjagamu dari luka terperi.
Dan Tuhan... Ku mohon
bisikkan padanya jika disini aku masih bisa melalang buana. Bak burung yang
kehilangan salah satu sayapnya. Mungkin aku tidak lagi bisa terbang, tapi
setidaknya aku masih dapat berdiri untuk saling mendo’akan juga merelakan. Berharap
sedihku akan luruh bersama airmata yang terjatuh. Dan sampai pada masanya
Engkau sudi mempertemukan aku dengannya lagi.
Selamat tidur panjang sahabat
penopang segala beban penderitaan...
Dekap Hangat Penuh Rindu
Senja Berenda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar