Kamu adalah apa yang aku tulis , tapi aku adalah yang selalu luput kamu baca

Toad Jumping Up and Down

Selasa, 15 April 2014

Surat Tanpa Alamat

              






  Bulan keempat

                                                                                                                        Di Telaga hati

Selamat senja untuk kalian para penyelam impian yang tak pernah usai...
            Hari ini aku kembali dari petualangan liarku. Membawa sejuta melankoli langkahku yang tak jua bertepi.  Menggapai impian yang tak kunjung berada digenggaman. Melawan terpaan badai yang kian menggila. Tapi disini, aku masih menjadi aku yang dulu. Aku yang menyimpan rapi semua rekaman saat – saat kebersamaan kita. Disini, dihati aku masih mematri ribuan tawa renyah harapan juga tangis pilu kehilangan yang setia kulilit pita merah jambu. Mungkin kapal akan tetap aman bila berada didermaga. Namun bukan itu tujuannya dirakit. Sebab hidup jelas tidak boleh diam ditempat. Meski harus menukar peluh dengan darah jangan berhenti ditengah perjalanan. Jadi, sudah sejauh mana kakimu melangkah menggapai asa duhai sahabat sejiwa? Dulu, berpura – pura menjadi tokoh utama  dalam drama yang pernah kita perankan bersama. Berganti topeng dan warna melakoni berbagai macam watak manusia. Mengikuti alur yang sudah tertulis sebagai jalan cerita. Entah merenda suka, pun duka nestapa. Lantas bagian mana yang tidak bahagia ketika perjalanannya sedemikian berwarna?
Duhai sahabat yang menjadi duniaku...
            Saat ini kita sudah menapaki kehidupan yang sesungguhnya. Bukan lagi drama namun nyata. Mendewasakan diri atas segala masalah yang Tuhan beri. Tujuannya adalah untuk menguji sekuat mana kita mampu berdiri. Seperti kata pepatah “ Jikalau takut terhempas ombak, maka jangan membangun rumah ditepi pantai “. Tapi aku tidak takut menghadapi serangan dari luar yang mungkin tak dapat aku hindari. Adalah bersamamu...
Tidak hanya disampingku, namun juga dalam hatiku.
Wahai sahabat, seseorang yang mampu mengatakan hal yang tak pernah ingin aku katakan...
            Tuhan tidak pernah menjanjikan suatu pelayaran yang indah. Tapi Tuhan akan memberikan sebuah pelabuhan yang meneduhkan. Hidup tidak selalu seindah pelangi. Pada kenyataannya kita sendiri yang harus mencari kekuatan untuk mengarungi hamparan samudera.
Duhai sahabat perajut kekuatan hati...
            Kita sudah berjanji bukan? Akan berada dalam satu rasa menghadapi kegagalan yang selalu datang tiba – tiba. Bergandengan tangan saling menguatkan lewat do’a dan pengharapan. Jangan khawatir, Tuhan akan menilai setiap usaha kita. Sehingga setiap kegagalan menjadi teguran atas kemalasan kita.
Wahai sahabatku...
            Tidak ada duka yang abadi. Jika Tuhan sudah berkehendak semua airmata akan berganti menjadi nikmat yang luar biasa. Barangkali kesedihan dan kegundahan adalah cara Tuhan melatih diri kita agar selalu bersabar. Saat ini raga kita memang terpisahkan oleh jarak dan waktu. Akan tetapi jangan sampai rantai persahabatan yang telah kita rangkai menjadi lepas dan terpisah satu per satu. Mungkin kita tidak akan melepaskan. Namun keadaan lah yang perlahan melepaskannya. Aku dan kamu sama – sama saling menyadari bahwa ada mimpi yang harus dikejar. Kita bukan mahasiswa lagi yang dipenuhi setumpuk buku. Yang bisa melakukan hal – hal gila sembari menghabiskan malam yang dingin. Kita dipertemukan oleh waktu, dan pada akhirnya waktu jualah yang akan memisahkan kita. Jika memang benar – benar sahabat, kita tidak akan bicara soal jarak. Tetapi hati dan rasa saling memiliki.
Duhai sahabat, seseorang yang datang ketika seluruh dunia meninggalkanku...
            Adakalanya ketidakcocokan membuat hubungan kita saling acuh dan melelahkan. Tapi bukankah kita juga sudah sepakat bahwa persahabatan adalah perkara saling melengkapi. Saling mengisi rindu dan kekosongan. Saling berharap juga mengharapkan. Saling berbagi juga membagi. Juga saling menangis dan menangisi. Jika ada tabiatku yang membuatmu kecewa, bahasakan saja kecewamu. Jangan diam, tetapi duduk dan saling bincang.
Duhai sahabat yang kini berbeda dimensi dan waktu...
            Kini kau telah terbang bersama sejuta mimpi yang juga kau ajak pergi. Meninggalkan semua kenangan yang kau kemas dengan balutan air mata kepergian. Membawa catatan kecil yang menguap bersama bayangan. Mungkin disana diatas mega, engkau sedang menari bahagia. Menatapku dari langit ketujuh. Lalu aku? Disini aku duduk seorang diri dibangku taman jalan Turi. Membawa potongan – potongan kenangan yang coba kembali ku sulam. Bersama benang kenangan dan jarum harapan yang berdampingan menjadi satu kesatuan.
           
Tuhan sudah memelukmu dengan erat. Menjagamu dari luka terperi.
Dan Tuhan... Ku mohon bisikkan padanya jika disini aku masih bisa melalang buana. Bak burung yang kehilangan salah satu sayapnya. Mungkin aku tidak lagi bisa terbang, tapi setidaknya aku masih dapat berdiri untuk saling mendo’akan juga merelakan. Berharap sedihku akan luruh bersama airmata yang terjatuh. Dan sampai pada masanya Engkau sudi mempertemukan aku dengannya lagi.
Selamat tidur panjang sahabat penopang segala beban penderitaan...


Dekap Hangat Penuh Rindu


Senja Berenda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar