Kakiku
melangkah diantara yakin dan ragu
Ku
ketuk pintu rumah tua tanpa tetangga diseberang dermaga
Pelatarannya
sesak oleh dedaunan yang gugur berserak
Aku
memberanikan diri untuk menghampiri berharap akan ada yang menemui
Satu
jam berlalu namun tak ada satupun yang menyapaku
Dari
balik jendela kudapati bongkahan kayu yang lapuk termakan waktu
Disampingnya
berceceran serpihan lampu
Aku
memandangi sekelilingku
Mencoba
mencari – cari jawaban atas tanya difikiranku
Disudut
dinding dekat pintu kulihat seonggok arloji hitam
Usang
berselimut debu...
Seakan
mengingatkanku pada masa lalu
Aku
terpaku menerobos lorong waktu
Mataku
terpejam...
Tubuhku
terhempas dibangku reot nyaris patah
Aku
menyibak rambut panjangku kemudian duduk memeluk lutut
Nafasku
sesak terjepit didada
Airmataku
tumpah ruah membasahi lengan baju motif kupu
Bagaimana
bisa aku kembali terdampar pada kejadian masa silam
Kejadian
yang menyeretku pada sebuah kesakitan
Satu
dua tiga rasa berkecamuk campur aduk
Kutolehkan
pandanganku pada sebuah tempat
Tempat
yang menjadi saksi bisu saat seseorang merenggut segala apa yang ada padaku
Saat
jiwa dan ragaku dijadikan sebuah boneka permainan
Tepat
pukul dua lewat empat puluh satu menit
Suara
dentang arloji hitam itu masih terngiang ditiap celah otakku
Hingga
detik ini nyerinya masih merasuk sampai sendi – sendi tulangku
Kusapu
airmata yang mengalir membasahi pipi
Aku
tertunduk penuh malu
Terselip
sesal dalam benakku
Mengapa
hidupku begitu kelabu?
Bola
mataku perlahan melirik penuh sinis
Tak
ada seorangpun yang menyambut kembalinya aku
Setelah
tahunan terkurung menyembuhkan jalan fikiranku yang rancu
Memulihkan
batinku yang terguncang
Memadamkan
emosi yang tak bertepi
Aku
beranjak lalu berdiri mendekati arloji yang kini mati
Dialah
memori yang merekam peristiwa remuknya hati
Jika
seperti ini akhirnya...
Aku
lebih memilih berada didalam rumah perbaikan jiwa
Menggila
selamanya...
Seperti
kemarin itu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar