Kamu adalah apa yang aku tulis , tapi aku adalah yang selalu luput kamu baca

Toad Jumping Up and Down

Selasa, 15 April 2014

Kelopak Yang Gugur







Tatkala senja kudapati engkau duduk dibangku taman tak berteman
Lalu sayup – sayup kudengar tangismu dari kejauhan
Sesekali tanganmu menyapu airmata pilu yang mengalir dari balik kelopak mata
Sayu matamu menatap nanar pada setangkai kembang yang kau genggam erat diantara jemari
Ku beranikan diri menggerakkan kakiku dengan sedikit paksa
Aku melangkah menyambangi engkau yang menangis tragis
Meski palung hati melawan karna belum berkawan
Tapi pada semilir angin kutitip sapa manjaku        
Pada putik pertemuan, kuulurkan tangan tanda perkenalan
Ada sambutan nan lembut
Hangat dan begitu memikat
Setelahnya engkau kembali sibuk dengan tangis yang menumpuk
Sementara aku kembali memandang mendung dilangit wajahmu bersama tanya yang menggunung
Kulirik ada yang bersembunyi malu – malu pada kerutan dahimu
Kuintip pelan dan kutemukan sebongkah kenangan
Pada keruh genangan air hujan aku berkaca mencari bayangmu
Senyum manis yang kusediakan seketika berubah menjadi getir bercampur asin
Dengan terbata engkau berkata
Meminta apapun yang terjadi aku tetap disisi
Acap kali aku bersiasat menerka – nerka rentetan kata yang kau ucap
Kuraih tanganmu lalu kugenggam erat
Dengan senyum merekah bahagia aku memandangmu penuh sayang
Membenarkan letak ponimu yang tertiup angin berantakan
Cantik rupamu dibalik topi rajut warna merah jambu
Namun seketika aku kalang kabut
Saat jemarimu melepas tudung cantik diatas kepalamu
Adalah puluhan rambut yang ikut luruh bergantian jatuh
Teriring derasnya derai rintik – rintik yang keluar dari pelupuk matamu
Aku memandang sendu
Aku ingin tau, ditelaga hati apa yang sedang engkau rasa?
Aku benar – benar ingin tau
Tapi aku bukanlah seseorang yang akan engkau beri tau
Dan yang membuat haru adalah kepergian
Ketika kita tak mampu lagi menapaki jalan beriringan
Semenit kemudian hanya punggungmu yang tertangkap pandangan
Lalu diluar kehendak kita, Tuhan memberikan cerita yang berbeda
Sampai pada suatu ketika kabarmu tak pernah lagi mampir ditiap pendengaran
Senja kala itu begitu muram sayang...
Karna kulihat senja tak lagi jingga
Tertutup tebalnya kabut berawan
Setelahmu, bahagia pergi...
Ku kecup nisanmu ditempat yang tak pernah kuduga
Pada airmata yang kujatuhkan, rindu begitu mengusik
Kepada lengan yang tak lagi memeluk
Pada perpisahan yang tak bersuara
Pada kepergianmu yang tenang
Engkau terlalu tergesa meninggalkan
Tanpa memberi aku kesempatan untuk mengatakan bahwa setelahmu bahagiaku tak lagi sama
Kuucap lirih sebaris do’a bersama sepotong kata
Pada layang yang melayang
Tertuju untuk jelita nan mempesona dialam baka




Senja Berenda,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar