Tatkala senja kudapati engkau duduk
dibangku taman tak berteman
Lalu sayup – sayup kudengar tangismu
dari kejauhan
Sesekali tanganmu menyapu airmata
pilu yang mengalir dari balik kelopak mata
Sayu matamu menatap nanar pada
setangkai kembang yang kau genggam erat diantara jemari
Ku beranikan diri menggerakkan kakiku
dengan sedikit paksa
Aku melangkah menyambangi engkau yang
menangis tragis
Meski palung hati melawan karna belum
berkawan
Tapi pada semilir
angin kutitip sapa manjaku
Pada putik pertemuan, kuulurkan
tangan tanda perkenalan
Ada sambutan nan lembut
Hangat dan begitu memikat
Setelahnya engkau kembali sibuk
dengan tangis yang menumpuk
Sementara aku kembali memandang
mendung dilangit wajahmu bersama tanya yang menggunung
Kulirik ada yang bersembunyi malu –
malu pada kerutan dahimu
Kuintip pelan dan kutemukan sebongkah
kenangan
Pada keruh genangan air hujan aku
berkaca mencari bayangmu
Senyum manis yang kusediakan seketika
berubah menjadi getir bercampur asin
Dengan terbata engkau berkata
Meminta apapun yang terjadi aku tetap
disisi
Acap kali aku bersiasat menerka –
nerka rentetan kata yang kau ucap
Kuraih tanganmu lalu kugenggam erat
Dengan senyum merekah bahagia aku
memandangmu penuh sayang
Membenarkan letak ponimu yang tertiup
angin berantakan
Cantik rupamu dibalik topi rajut
warna merah jambu
Namun seketika aku kalang kabut
Saat jemarimu melepas tudung cantik
diatas kepalamu
Adalah puluhan rambut yang ikut luruh
bergantian jatuh
Teriring derasnya derai rintik –
rintik yang keluar dari pelupuk matamu
Aku memandang sendu
Aku ingin tau, ditelaga hati apa yang
sedang engkau rasa?
Aku benar – benar ingin tau
Tapi aku bukanlah seseorang yang akan
engkau beri tau
Dan yang membuat haru adalah
kepergian
Ketika kita tak mampu lagi menapaki
jalan beriringan
Semenit kemudian hanya punggungmu
yang tertangkap pandangan
Lalu diluar kehendak kita, Tuhan
memberikan cerita yang berbeda
Sampai pada suatu ketika kabarmu tak
pernah lagi mampir ditiap pendengaran
Senja kala itu begitu muram sayang...
Karna kulihat senja tak lagi jingga
Tertutup tebalnya kabut berawan
Setelahmu, bahagia pergi...
Ku kecup nisanmu ditempat yang tak
pernah kuduga
Pada airmata yang kujatuhkan, rindu
begitu mengusik
Kepada lengan yang tak lagi memeluk
Pada perpisahan yang tak bersuara
Pada kepergianmu yang tenang
Engkau terlalu tergesa meninggalkan
Tanpa memberi aku kesempatan untuk
mengatakan bahwa setelahmu bahagiaku tak lagi sama
Kuucap lirih sebaris do’a bersama
sepotong kata
Pada layang yang melayang
Tertuju untuk jelita nan mempesona
dialam baka
Senja Berenda,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar