Kamu adalah apa yang aku tulis , tapi aku adalah yang selalu luput kamu baca

Toad Jumping Up and Down

Jumat, 11 April 2014

Air Disudut Mataku







Lagi – lagi urusan hati. Ketika aku dihadapkan dengan kondisi yang perlahan merubah hidupku menjadi lebih berarti. Barangkali ini jalan dari Tuhan. Saat diluar dugaan Tuhan menghadirkan seseorang yang entah darimana asalnya, seperti apa dia dan bagaimana kehidupannya. Aku tidak pernah tau alasan Tuhan menghadirkannya dihidupku. Meskipun pada saat itu aku masih duduk di sebuah Sekolah Menengah Atas didaerah ku. Namaku Ranum Sekar Ayu. Panggil saja aku Ranum. Entah bagaimana mulanya ada seberkas bahagia yang menyembul saat tiba – tiba dia muncul dihadapanku. Perlahan namun pasti. Mungkin waktu sedang berbaik hati membiarkan semuanya berjalan tanpa sedikitpun keraguan. Bagaimana bisa seseorang yang baru saja Tuhan perkenalkan dengan sebegitu cepatnya mampu meracuni imajinasiku dengan segala yang ia punya. Awalnya aku bersikeras untuk menampiknya dan menganggap itu hanya sebatas kekaguman belaka. Kekaguman yang tidak diatasnamakan dengan cinta. Namun apa yang terjadi? Semakin aku mengindar, rasa itu justru kian menghampiri. Memaksaku untuk masuk pada penilaianku yang berbalik arah. Rasa sayang itu mulai membelengguku dengan segala cara. Aku takluk. Takluk pada dia yang berhasil mencuri hatiku.
            Dia... Seseorang yang berhasil membuatku jatuh cinta dengan cara yang berbeda. Si unik yang jago main futsal. Sebut saja namanya Bayu Firdausi. Dia, cinta pertamaku. Seseorang yang membawaku terbang  melikuk – liuk dilangit harapan. Seseorang yang namanya selalu kurapal dalam do’a. Dia laki – laki  tangguh kebanggaanku yang harus dijaga hatinya. Sepenuhnya aku bahagia...
            Namun lain dulu lain sekarang. Mungkin itulah kata – kata yang paling tepat untuk diungkapkan pada saat ini. Bak ditampar kenyataan. Aku tidak pernah mengira akan tenggelam dilautan airmataku sendiri. Ketika perlahan semuanya mulai memudar. Aku merasa ada yang berubah. Sejujurnya banyak tanya yang berkecamuk menjadi satu. Dan yang selalu menjadi penyebab pertengkaran adalah kesibukan, pekerjaan, kuliah dan belum lagi urusan dengan teman – temannya yang tidak semua aku kenal. Aku berusaha membiasakan hal itu dan tidak membuatnya menjadi hal serius. Tapi lagi – lagi dia menghantam pertahananku dengan semua perlakuannya. Aku paham benar bagaimana rasanya menghabiskan malamku dengan menunggu balasan pesan singkat darinya. Aku juga sudah hafal bagaimana rasanya diabaikan. Meski sering kali kabarnya sangat sulit untuk aku dengar, tapi aku tetap mencintainya dengan sabar. Demi Tuhan, aku tidak pernah menggenggamnya terlalu kencang. Hanya saja yang aku mau dia selalu ada dalam pendengaran. Bahkan tidak jarang, dia selalu membuatku sulit memejamkan mata ketika malam datang. Dan lagi – lagi dia berulah dengan hal yang sama. Adalah suatu pengabaian yang tak terhitung jumlahnya. Aku tau dia sedang jenuh. Jenuh akan hubungan yang terbentang diantara jarak yang sedemikian jauhnya. Tapi apa dia tidak berfikir jika aku pun merasakan hal yang sama. Yang aku tidak habis fikir mengapa tidak mencari jalan keluarnya bersama – sama tapi justru lebih memilih diam. Kecewa karna dia ingkar janji sudah sering aku hadapi. Semua itu berjalan hampir 4 tahun, lalu kesabaran yang seperti apalagi yang dia mau?
            Dan yang membuat haru adalah perpisahan. Ketika semua yang kupunya sudah aku berikan lantas ia lebih memilih mempercepat langkah dan pada akhirnya berjalan meninggalkanku. Akhirnya pun pertahanannya goyah. Miris bukan saat harus melihat hubungan yang selama ini kujaga dengan sepenuh jiwa harus runtuh tergerus jarak dan waktu. Dulu, aku memang yang terindah. Tapi itu dulu setelah semuanya dia akhiri dengan kata putus. Aku sadar, mungkin terlalu banyak hal yang dia alami sehingga dia tidak bisa menerima cinta dariku lagi. Aku sadar, aku tidak bisa menjadi seperti apa yang dia minta. Ini bukan mauku. Lalu selain mengiyakan, aku bisa apa? Jujur, terlalu menyakitkan ketika harus membaca isi pesan singkatnya yang bertulis kata – kata pengakhir hubungan. Aku menangis dan terus saja kubodohi diriku sendiri. Lalu apa artinya aku menunggunya selama ini? Apa artinya aku menyayanginya melebihi aku menyayangi diriku sendiri. Lalu untuk apa kepercayaan dan seribu harapan yang selama ini ia beri dan terus kunanti jika pada akhirnya dia robek dengan begitu mudahnya. Apa dia tidak pernah merasa ketika membiarkan aku sendiri dikesunyian yang terus membelenggu. Sementara dia entah dengan siapa saja merajut bahagia untuk dirinya sendiri dan tanpa aku. Aku sakit, aku kecewa dan aku terluka. Tapi aku tidak pernah berniat meninggalkannya walau dengan satu derap langkah saja seperti saat ini yang dia lakukan terhadapku. Aku sudah mengorbankan banyak rasa hanya demi hubungan yang selama ini selalu aku banggakan. Betapa aku menjaganya sekuat tenaga dalam hidup dan mati, ditiap resah, dari detik demi detik. Namun pada akhirnya ia hancurkan, ia hempaskan ego dan amarahnya sampai membuat hatiku berantakan menjadi kepingan kecil yang tidak dapat aku rangkai kembali.
            Kemudian apa yang dia lakukan ketika aku meronta, menangis, menggelayut dikakinya memohon agar dia tidak meninggalkan aku? Lantas dia katakan tidak dan pergi berlalu tanpa memperdulikan bagaimana harus kusembuhkan lukaku ini. Diluar sana adakah yang lebih sakit dari aku? Ketika harus merasakan bagaimana tidak enaknya makan, bagaimana sulit terpejamnya mata, bagaimana rasanya mata sembab akibat airmata yang terus membanjiri pipi. Ketika harus merasakan bagaimana rasanya mengurung diri didalam kamar, bagiamana rasanya semua yang dilakukan terasa hambar. Ketika harus berjuang melawan tekanan untuk menetralisir sebuah keadaan akibat dari suatu  kehilangan. Yaa... Kehilangan orang yang kita sayang membuat hidup rasanya berada dititik terendah dipusara si bulat nol.  
            Katanya aku tidak peka. Ketidakpekaan seperti apa yang dia maksud? Bukankah aku sudah memberikan bahuku sebagai tempat sandarannya meskipun pada ujungnya setelah dia pulih dari letih dia pergi berlalu begitu saja. Apa itu yang ia sebut tidak peka? Dusta. Ibuku, mungkin beliau lah seseorang yang berhasil mengembalikkan kepercayaan diriku dengan segenap cintanya. Seseorang yang dengan rela mengulurkan tangan lembutnya untuk menopang segala kesedihanku. Seseorang yang merengkuhku dengan dekap bahagia sebagai selimutnya. Yaa, ibuku malaikat pelindungku. Aku memang sedang dirundung pilu. Tapi disekelilingku masih ada mereka yang selalu menjadi pendengar setiaku. Mereka yang dengan sigap menuntunku bangkit lagi setelah jatuh terpuruk. Mereka yang selalu menjadi penghiburku. Atas dasar dorongan yang begitu luar biasa dari mereka, maka kuputuskan untuk mencoba bangun kemudian tegak berdiri. Aku tidak mau terus - menerus terpenjara dibalik ruang hatiku sendiri. Aku lelah. Mungkin ini saatnya menunjukkan pada dia bahwa aku mampu mengukir bahagia dengan ataupun tanpanya. Aku tidak mau menjadi sosok pengecut yang takut dan lari dari kenyataan. Sedikit demi sedikit aku mulai dapat bergerak bebas seperti jauh sebelum aku mengalami kejadian ini. Bukan hal besar, adalah hobi menulisku yang aku yakin dapat memulihkanku kesediakala. Aku tidak mau lagi meratapi kepergian sang kekasih hati. Aku rasa sudah bukan saatnya, sementara ada atau tiadanya dia hidup terus berjalan. Aku tidak mau terus berada diposisi yang sama. Dari situ aku mulai rajin menulis, bahkan hasil tulisanku sering aku ikutsertakan kebeberapa event lomba. Bisa jadi inilah cara termutakhirku. Sedikit bicara dan lebih memilih bersua lewat kata. Aku yakin aku akan baik – baik saja.
            Aku tidak ingin serta merta menyalahkannya. Aku sadar, aku hanya manusia biasa. Barangkali memang cintaku terlalu sederhana untuk dia yang begitu istimewa. Mungkin inilah jalan yang terbaik. Saling melepaskan juga merelakan. Karna sekalipun bertahan hanya akan membuat semuanya semakin rumit. Sudah hitungan tahun tapi dia masih belum tergantikan. Aku memang masih mencintainya. Tapi bukan berarti aku tidak bisa berkata tidak jika suatu hari nanti dia menawarkan kembali luka yang diatasnamakan kita. Aku sudah bilang berkali – kali, silahkan dia kembali, tapi jangan membawa segudang harapan untukku lagi. Aku tidak lagi berani berharap, karna yang sudah – sudah semua perhatiannya hanya membunuh waktu jenuh. Dia, satu – satunya alasan mengapa sampai saat ini masih kuputuskan untuk hidup sendiri. Seseorang yang membuatku cinta setengah gila. Dia, laki – laki kesayanganku yang pernah lupa akan tanggal ulang tahunku. Tidak apa – apa, dia masih tetap kucintai dan aku sudah berbesar hati atas apa yang terjadi.
            Sekarang aku jadi tau mengapa Tuhan memberiku batin yang kuat. Alasannya karna beberapa orang yang Tuhan hadirkan adalah sebuah cobaan. Tidak semata – mata terus membawa kebahagiaan. Mungkin ombak menghantam karang bukan karena dia tidak suka, tapi dia mencintai dengan cara yang berbeda. Aku hanya tidak ingin hidup dalam sebuah kebencian terlebih menyimpan dendam. Aku memilih memaknai ini sebagai suatu peringatan dan pembelajaran tentang sebuah keikhlasan kepada takdir yang sudah Tuhan gariskan. Kuatlah, bangkitlah. Tunjukkan pada semua bahwa tangan lembut kita mampu mengguncangkan dunia...
Aku...
Tepat disudut toko yang menjadi tempatku mencari uang jajan
Bersama tas tangan warna merah muda semu orange dan saputangan garis bergambar rainbow
Dibawah lampu yang padam dekat dengan cermin kaca yang terpaku didinding dekat pintu
Untuk kamu...
Seseorang yang namanya selalu kusematkan ditiap do’a dan pengharapan
Semoga bahagiamu selalu tercurah bersama seseorang yang kamu anggap tepat

Hari ini, esok dan selamanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar