Lagi
– lagi urusan hati. Ketika aku dihadapkan dengan kondisi yang perlahan merubah
hidupku menjadi lebih berarti. Barangkali ini jalan dari Tuhan. Saat diluar
dugaan Tuhan menghadirkan seseorang yang entah darimana asalnya, seperti apa
dia dan bagaimana kehidupannya. Aku tidak pernah tau alasan Tuhan
menghadirkannya dihidupku. Meskipun pada saat itu aku masih duduk di sebuah
Sekolah Menengah Atas didaerah ku. Namaku Ranum Sekar Ayu. Panggil saja aku
Ranum. Entah bagaimana mulanya ada seberkas bahagia yang menyembul saat tiba –
tiba dia muncul dihadapanku. Perlahan namun pasti. Mungkin waktu sedang berbaik
hati membiarkan semuanya berjalan tanpa sedikitpun keraguan. Bagaimana bisa seseorang
yang baru saja Tuhan perkenalkan dengan sebegitu cepatnya mampu meracuni
imajinasiku dengan segala yang ia punya. Awalnya aku bersikeras untuk
menampiknya dan menganggap itu hanya sebatas kekaguman belaka. Kekaguman yang
tidak diatasnamakan dengan cinta. Namun apa yang terjadi? Semakin aku
mengindar, rasa itu justru kian menghampiri. Memaksaku untuk masuk pada
penilaianku yang berbalik arah. Rasa sayang itu mulai membelengguku dengan
segala cara. Aku takluk. Takluk pada dia yang berhasil mencuri hatiku.
Dia... Seseorang yang berhasil
membuatku jatuh cinta dengan cara yang berbeda. Si unik yang jago main futsal.
Sebut saja namanya Bayu Firdausi. Dia, cinta pertamaku. Seseorang yang
membawaku terbang melikuk – liuk
dilangit harapan. Seseorang yang namanya selalu kurapal dalam do’a. Dia laki –
laki tangguh kebanggaanku yang harus
dijaga hatinya. Sepenuhnya aku bahagia...
Namun lain dulu lain sekarang.
Mungkin itulah kata – kata yang paling tepat untuk diungkapkan pada saat ini.
Bak ditampar kenyataan. Aku tidak pernah mengira akan tenggelam dilautan
airmataku sendiri. Ketika perlahan semuanya mulai memudar. Aku merasa ada yang
berubah. Sejujurnya banyak tanya yang berkecamuk menjadi satu. Dan yang selalu
menjadi penyebab pertengkaran adalah kesibukan, pekerjaan, kuliah dan belum
lagi urusan dengan teman – temannya yang tidak semua aku kenal. Aku berusaha
membiasakan hal itu dan tidak membuatnya menjadi hal serius. Tapi lagi – lagi
dia menghantam pertahananku dengan semua perlakuannya. Aku paham benar bagaimana
rasanya menghabiskan malamku dengan menunggu balasan pesan singkat darinya. Aku
juga sudah hafal bagaimana rasanya diabaikan. Meski sering kali kabarnya sangat
sulit untuk aku dengar, tapi aku tetap mencintainya dengan sabar. Demi Tuhan,
aku tidak pernah menggenggamnya terlalu kencang. Hanya saja yang aku mau dia
selalu ada dalam pendengaran. Bahkan tidak jarang, dia selalu membuatku sulit
memejamkan mata ketika malam datang. Dan lagi – lagi dia berulah dengan hal
yang sama. Adalah suatu pengabaian yang tak terhitung jumlahnya. Aku tau dia
sedang jenuh. Jenuh akan hubungan yang terbentang diantara jarak yang
sedemikian jauhnya. Tapi apa dia tidak berfikir jika aku pun merasakan hal yang
sama. Yang aku tidak habis fikir mengapa tidak mencari jalan keluarnya bersama
– sama tapi justru lebih memilih diam. Kecewa karna dia ingkar janji sudah
sering aku hadapi. Semua itu berjalan hampir 4 tahun, lalu kesabaran yang
seperti apalagi yang dia mau?
Dan yang membuat haru adalah
perpisahan. Ketika semua yang kupunya sudah aku berikan lantas ia lebih memilih
mempercepat langkah dan pada akhirnya berjalan meninggalkanku. Akhirnya pun
pertahanannya goyah. Miris bukan saat harus melihat hubungan yang selama ini
kujaga dengan sepenuh jiwa harus runtuh tergerus jarak dan waktu. Dulu, aku
memang yang terindah. Tapi itu dulu setelah semuanya dia akhiri dengan kata
putus. Aku sadar, mungkin terlalu banyak hal yang dia alami sehingga dia tidak
bisa menerima cinta dariku lagi. Aku sadar, aku tidak bisa menjadi seperti apa
yang dia minta. Ini bukan mauku. Lalu selain mengiyakan, aku bisa apa? Jujur,
terlalu menyakitkan ketika harus membaca isi pesan singkatnya yang bertulis
kata – kata pengakhir hubungan. Aku menangis dan terus saja kubodohi diriku
sendiri. Lalu apa artinya aku menunggunya selama ini? Apa artinya aku
menyayanginya melebihi aku menyayangi diriku sendiri. Lalu untuk apa
kepercayaan dan seribu harapan yang selama ini ia beri dan terus kunanti jika
pada akhirnya dia robek dengan begitu mudahnya. Apa dia tidak pernah merasa
ketika membiarkan aku sendiri dikesunyian yang terus membelenggu. Sementara dia
entah dengan siapa saja merajut bahagia untuk dirinya sendiri dan tanpa aku.
Aku sakit, aku kecewa dan aku terluka. Tapi aku tidak pernah berniat
meninggalkannya walau dengan satu derap langkah saja seperti saat ini yang dia
lakukan terhadapku. Aku sudah mengorbankan banyak rasa hanya demi hubungan yang
selama ini selalu aku banggakan. Betapa aku menjaganya sekuat tenaga dalam
hidup dan mati, ditiap resah, dari detik demi detik. Namun pada akhirnya ia
hancurkan, ia hempaskan ego dan amarahnya sampai membuat hatiku berantakan
menjadi kepingan kecil yang tidak dapat aku rangkai kembali.
Kemudian apa yang dia lakukan ketika
aku meronta, menangis, menggelayut dikakinya memohon agar dia tidak
meninggalkan aku? Lantas dia katakan tidak dan pergi berlalu tanpa
memperdulikan bagaimana harus kusembuhkan lukaku ini. Diluar sana adakah yang
lebih sakit dari aku? Ketika harus merasakan bagaimana tidak enaknya makan,
bagaimana sulit terpejamnya mata, bagaimana rasanya mata sembab akibat airmata
yang terus membanjiri pipi. Ketika harus merasakan bagaimana rasanya mengurung
diri didalam kamar, bagiamana rasanya semua yang dilakukan terasa hambar. Ketika
harus berjuang melawan tekanan untuk menetralisir sebuah keadaan akibat dari
suatu kehilangan. Yaa... Kehilangan
orang yang kita sayang membuat hidup rasanya berada dititik terendah dipusara
si bulat nol.
Katanya aku tidak peka.
Ketidakpekaan seperti apa yang dia maksud? Bukankah aku sudah memberikan bahuku
sebagai tempat sandarannya meskipun pada ujungnya setelah dia pulih dari letih
dia pergi berlalu begitu saja. Apa itu yang ia sebut tidak peka? Dusta. Ibuku, mungkin
beliau lah seseorang yang berhasil mengembalikkan kepercayaan diriku dengan
segenap cintanya. Seseorang yang dengan rela mengulurkan tangan lembutnya untuk
menopang segala kesedihanku. Seseorang yang merengkuhku dengan dekap bahagia
sebagai selimutnya. Yaa, ibuku malaikat pelindungku. Aku memang sedang
dirundung pilu. Tapi disekelilingku masih ada mereka yang selalu menjadi
pendengar setiaku. Mereka yang dengan sigap menuntunku bangkit lagi setelah
jatuh terpuruk. Mereka yang selalu menjadi penghiburku. Atas dasar dorongan
yang begitu luar biasa dari mereka, maka kuputuskan untuk mencoba bangun
kemudian tegak berdiri. Aku tidak mau terus - menerus terpenjara dibalik ruang
hatiku sendiri. Aku lelah. Mungkin ini saatnya menunjukkan pada dia bahwa aku
mampu mengukir bahagia dengan ataupun tanpanya. Aku tidak mau menjadi sosok
pengecut yang takut dan lari dari kenyataan. Sedikit demi sedikit aku mulai
dapat bergerak bebas seperti jauh sebelum aku mengalami kejadian ini. Bukan hal
besar, adalah hobi menulisku yang aku yakin dapat memulihkanku kesediakala. Aku
tidak mau lagi meratapi kepergian sang kekasih hati. Aku rasa sudah bukan
saatnya, sementara ada atau tiadanya dia hidup terus berjalan. Aku tidak mau terus
berada diposisi yang sama. Dari situ aku mulai rajin menulis, bahkan hasil
tulisanku sering aku ikutsertakan kebeberapa event lomba. Bisa jadi inilah cara
termutakhirku. Sedikit bicara dan lebih memilih bersua lewat kata. Aku yakin
aku akan baik – baik saja.
Aku tidak ingin serta merta menyalahkannya.
Aku sadar, aku hanya manusia biasa. Barangkali memang cintaku terlalu sederhana
untuk dia yang begitu istimewa. Mungkin inilah jalan yang terbaik. Saling
melepaskan juga merelakan. Karna sekalipun bertahan hanya akan membuat semuanya
semakin rumit. Sudah hitungan tahun tapi dia masih belum tergantikan. Aku
memang masih mencintainya. Tapi bukan berarti aku tidak bisa berkata tidak jika
suatu hari nanti dia menawarkan kembali luka yang diatasnamakan kita. Aku sudah
bilang berkali – kali, silahkan dia kembali, tapi jangan membawa segudang
harapan untukku lagi. Aku tidak lagi berani berharap, karna yang sudah – sudah
semua perhatiannya hanya membunuh waktu jenuh. Dia, satu – satunya alasan
mengapa sampai saat ini masih kuputuskan untuk hidup sendiri. Seseorang yang
membuatku cinta setengah gila. Dia, laki – laki kesayanganku yang pernah lupa
akan tanggal ulang tahunku. Tidak apa – apa, dia masih tetap kucintai dan aku
sudah berbesar hati atas apa yang terjadi.
Sekarang aku jadi tau mengapa Tuhan
memberiku batin yang kuat. Alasannya karna beberapa orang yang Tuhan hadirkan
adalah sebuah cobaan. Tidak semata – mata terus membawa kebahagiaan. Mungkin
ombak menghantam karang bukan karena dia tidak suka, tapi dia mencintai dengan
cara yang berbeda. Aku hanya tidak ingin hidup dalam sebuah kebencian terlebih
menyimpan dendam. Aku memilih memaknai ini sebagai suatu peringatan dan
pembelajaran tentang sebuah keikhlasan kepada takdir yang sudah Tuhan gariskan.
Kuatlah, bangkitlah. Tunjukkan pada semua bahwa tangan lembut kita mampu
mengguncangkan dunia...
Aku...
Tepat
disudut toko yang menjadi tempatku mencari uang jajan
Bersama
tas tangan warna merah muda semu orange dan saputangan garis bergambar rainbow
Dibawah
lampu yang padam dekat dengan cermin kaca yang terpaku didinding dekat pintu
Untuk
kamu...
Seseorang
yang namanya selalu kusematkan ditiap do’a dan pengharapan
Semoga
bahagiamu selalu tercurah bersama seseorang yang kamu anggap tepat
Hari
ini, esok dan selamanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar