Kamu adalah apa yang aku tulis , tapi aku adalah yang selalu luput kamu baca

Toad Jumping Up and Down

Jumat, 11 April 2014

Bukan Ibu Sabtu Minggu





Hidup jelas tidak diam ditempat. Semua mempunyai masa peralihan dari waktu kewaktu. Setiap titiknya semakin menambah tanggung jawab dan kian memperjelas kodrat. Adalah mengenal dan belajar tanpa batas.
            Seperti aku misalnya. Tanpa disadari usia dan waktu menuntutku untuk mencari tau sesuatu tentang apapun yang akan melingkari hidupku nanti. Barangkali aku sama seperti wanita lain pada umumnya, bermimpi menjadi sosok perempuan sejati yang hebat namun tetap anggun. Aku tidak berniat merubah sesuatu dalam diri yang sudah Tuhan beri. Aku lebih memilih membiarkannya seperti air yang mengalir mengikuti arus. Kalaupun terjadi perubahan mungkin tidak harus dijadikan masalah selama aku masih tetap tenang dalam aturan dan menjadi diriku sendiri.
            Aku rasa sudah saatnya memilih, mempertimbangkan kemudian memutuskan hal terpenting  yang berkaitan dengan orang – orang spesial yang akan melengkapi hidup ini.
            Ialah menjadi seorang ibu rumah tangga. Menjadi wanita sepenuhnya. Wanita yang berprestasi akan baktinya kepada suami. Wanita yang hadir disetiap kondisi apapun ruang dan waktunya. Menjadi ibu rumah tangga yang senantiasa menjaga tabiat seluruh penghuni rumah. Menjadi wanita yang setia mendampingi suami saat suami menahkodai bahtera rumah tangga nanti. Menjadi ibu rumah tangga yang syar’i tingkah juga hatinya. Hingga pada saatnya nanti aku layak mengemban amanah sebagai seorang istri.
            Ya... Seorang istri. Istri yang mengabdi pada suami. Istri yang mampu meringankan beban suami meskipun hanya dengan senyuman. Istri yang sigap menjalankan perintah suami dengan senang hati. Seorang istri yang tanggap akan keluh kesah suami. Menjadi seorang istri sekaligus ibu rumah tangga yang pintar mengatur dan mengolah segala kebutuhan. Dan menjadi seorang istri yang santun penuh kelembutan.
            Sekarang aku sedang mempersiapkan segala yang terbaik untuknya. Termasuk mempersiapkan menjadi seorang ibu untuk anak – anakku. Berharap jika sudah masanya aku akan menjadi ibu yang penuh waktu, bukan seorang ibu yang paruh waktu ataupun seorang ibu yang hanya akan ada tiap sabtu dan minggu. Sudah lama ku tanam dalam – dalam bahwa aku ingin dan harus menjadi seorang ibu yang mampu menjadi peneduh sekaligus pelindung hati anak – anaknya. Ibu yang tidak mendidik anaknya dengan kesombongan diri akan tetapi mengayomi atas dasar kerendahan hati. Untuk orang – orang tercintaku aku rela berusaha sekuat tenaga agar mampu menjadi seorang ibu rumah tangga yang tidak hanya cerdas otaknya namun juga bijak hatinya.
            Perkara rezeki itu sudah menjadi tugas suami. Aku yakin Tuhan sudah mengatur jalan rezeki kita masing – masing dan memberikannya dengan cara yang Tuhan punya.
            Aku tidak takut akan kehilangan banyak hal jika aku hanya berdiam diri dirumah tanpa kegiatan lain selain menjalankan tugas sebagai seorang istri. Tidak. Aku yakini aku tidak akan kehilangan teman – temanku. Aku yakin waktuku tidak akan terbuang sia – sia. Bukankah yang aku pilih adalah sebuah tugas mulia? Aku yakin aku bisa menikmatinya. Bosan pasti akan ada. Tapi banyak hal yang bisa dilakukan untuk membunuh waktu jenuh sembari menunggu suami dan anak – anakku pulang dari segala aktifitas mereka.
            Membaca dan menulis barangkali solusinya. Aku sudah cukup lama menggeluti dunia literasi dan aku mencintainya. Mungkin saja fisikku berdiam ditempat tapi tidak dengan fikiranku. Ia bisa melancong melanglang buana mencari hal baru yang siap aku tuangkan dalam goresan penaku. Bisa saja ini cara termutakhirku untuk menyamakan langkah dengan wanita – wanita yang berkarya diluar sana. Barangkali hobiku juga mampu menjadi peluang rejeki untuk kami. Siapa yang tau? Aku tidak mau hanya menjadi penimbun rupiah lantas lupa akan kodratku yang semestinya. Aku yakin aku mampu membuat suami dan anak – anakku bangga terhadapku. Sekali lagi suami dan anak – anakku lah yang aku yakini akan menjadi alasan dibalik tetap berdirinya aku yang memutuskan sebagai seorang ibu rumah tangga.
            Meskipun perlu disadari bahwa dunia pernikahan tidak selalu seindah pelangi.  Dan pada kenyataannya seorang istri sering kali jatuh bangun mencari kekuatan. Tetapi aku tetap bersikeras untuk menjadi ibu rumah tangga yang berusaha menjadi sosok yang indah, berkilau namun tetap menentramkan. Menjadi ibu rumah tangga muslimah yang sholehah. Akan berusaha menjadi ibu rumah tangga yang mampu merengkuh suami dan anak – anak dengan pesonanya. Aku akan berjuang menjadi seorang ibu yang mendidik anak – anaknya dengan strategi yang tepat agar tumbuh cerdas dan beriman kepada Tuhannya. Aku tidak ingin anak – anakku salah langkah. Dia hanya sebatas kertas kosong dan aku lah sebagai ibu yang memegang penanya.  Memberikan pendidikan yang layak, menanamkan nilai agama serta akhlak sehingga hal itu menjadi bagian terbesar dalam kehidupannya.

            Harapannya semua peranan dan perjuanganku sebagai seorang perempuan sekaligus ibu rumah tangga suatu hari nanti akan menjadi suatu ibadah yang tak ternilai balasannya. Memberikan sedikit inspirasi dan kemantapan hati pada semua wanita agar tidak terbesit keraguan untuk menjadi manusia yang amanah sesuai dengan kodrat yang sesungguhnya. Utamanya segala sesuatu pasti akan ada baik dan buruknya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar