Hidup
jelas tidak diam ditempat. Semua mempunyai masa peralihan dari waktu kewaktu.
Setiap titiknya semakin menambah tanggung jawab dan kian memperjelas kodrat.
Adalah mengenal dan belajar tanpa batas.
Seperti aku misalnya. Tanpa disadari
usia dan waktu menuntutku untuk mencari tau sesuatu tentang apapun yang akan
melingkari hidupku nanti. Barangkali aku sama seperti wanita lain pada umumnya,
bermimpi menjadi sosok perempuan sejati yang hebat namun tetap anggun. Aku
tidak berniat merubah sesuatu dalam diri yang sudah Tuhan beri. Aku lebih
memilih membiarkannya seperti air yang mengalir mengikuti arus. Kalaupun
terjadi perubahan mungkin tidak harus dijadikan masalah selama aku masih tetap
tenang dalam aturan dan menjadi diriku sendiri.
Aku rasa sudah saatnya memilih,
mempertimbangkan kemudian memutuskan hal terpenting yang berkaitan dengan orang – orang spesial
yang akan melengkapi hidup ini.
Ialah menjadi seorang ibu rumah
tangga. Menjadi wanita sepenuhnya. Wanita yang berprestasi akan baktinya kepada
suami. Wanita yang hadir disetiap kondisi apapun ruang dan waktunya. Menjadi
ibu rumah tangga yang senantiasa menjaga tabiat seluruh penghuni rumah. Menjadi
wanita yang setia mendampingi suami saat suami menahkodai bahtera rumah tangga
nanti. Menjadi ibu rumah tangga yang syar’i tingkah juga hatinya. Hingga pada
saatnya nanti aku layak mengemban amanah sebagai seorang istri.
Ya... Seorang istri. Istri yang
mengabdi pada suami. Istri yang mampu meringankan beban suami meskipun hanya dengan
senyuman. Istri yang sigap menjalankan perintah suami dengan senang hati.
Seorang istri yang tanggap akan keluh kesah suami. Menjadi seorang istri
sekaligus ibu rumah tangga yang pintar mengatur dan mengolah segala kebutuhan. Dan
menjadi seorang istri yang santun penuh kelembutan.
Sekarang aku sedang mempersiapkan
segala yang terbaik untuknya. Termasuk mempersiapkan menjadi seorang ibu untuk
anak – anakku. Berharap jika sudah masanya aku akan menjadi ibu yang penuh
waktu, bukan seorang ibu yang paruh waktu ataupun seorang ibu yang hanya akan
ada tiap sabtu dan minggu. Sudah lama ku tanam dalam – dalam bahwa aku ingin
dan harus menjadi seorang ibu yang mampu menjadi peneduh sekaligus pelindung
hati anak – anaknya. Ibu yang tidak mendidik anaknya dengan kesombongan diri
akan tetapi mengayomi atas dasar kerendahan hati. Untuk orang – orang
tercintaku aku rela berusaha sekuat tenaga agar mampu menjadi seorang ibu rumah
tangga yang tidak hanya cerdas otaknya namun juga bijak hatinya.
Perkara rezeki itu sudah menjadi
tugas suami. Aku yakin Tuhan sudah mengatur jalan rezeki kita masing – masing
dan memberikannya dengan cara yang Tuhan punya.
Aku tidak takut akan kehilangan
banyak hal jika aku hanya berdiam diri dirumah tanpa kegiatan lain selain
menjalankan tugas sebagai seorang istri. Tidak. Aku yakini aku tidak akan
kehilangan teman – temanku. Aku yakin waktuku tidak akan terbuang sia – sia.
Bukankah yang aku pilih adalah sebuah tugas mulia? Aku yakin aku bisa
menikmatinya. Bosan pasti akan ada. Tapi banyak hal yang bisa dilakukan untuk
membunuh waktu jenuh sembari menunggu suami dan anak – anakku pulang dari
segala aktifitas mereka.
Membaca dan menulis barangkali
solusinya. Aku sudah cukup lama menggeluti dunia literasi dan aku mencintainya.
Mungkin saja fisikku berdiam ditempat tapi tidak dengan fikiranku. Ia bisa
melancong melanglang buana mencari hal baru yang siap aku tuangkan dalam
goresan penaku. Bisa saja ini cara termutakhirku untuk menyamakan langkah
dengan wanita – wanita yang berkarya diluar sana. Barangkali hobiku juga mampu
menjadi peluang rejeki untuk kami. Siapa yang tau? Aku tidak mau hanya menjadi
penimbun rupiah lantas lupa akan kodratku yang semestinya. Aku yakin aku mampu
membuat suami dan anak – anakku bangga terhadapku. Sekali lagi suami dan anak –
anakku lah yang aku yakini akan menjadi alasan dibalik tetap berdirinya aku
yang memutuskan sebagai seorang ibu rumah tangga.
Meskipun perlu disadari bahwa dunia
pernikahan tidak selalu seindah pelangi.
Dan pada kenyataannya seorang istri sering kali jatuh bangun mencari
kekuatan. Tetapi aku tetap bersikeras untuk menjadi ibu rumah tangga yang
berusaha menjadi sosok yang indah, berkilau namun tetap menentramkan. Menjadi
ibu rumah tangga muslimah yang sholehah. Akan berusaha menjadi ibu rumah tangga
yang mampu merengkuh suami dan anak – anak dengan pesonanya. Aku akan berjuang
menjadi seorang ibu yang mendidik anak – anaknya dengan strategi yang tepat
agar tumbuh cerdas dan beriman kepada Tuhannya. Aku tidak ingin anak – anakku
salah langkah. Dia hanya sebatas kertas kosong dan aku lah sebagai ibu yang
memegang penanya. Memberikan pendidikan
yang layak, menanamkan nilai agama serta akhlak sehingga hal itu menjadi bagian
terbesar dalam kehidupannya.
Harapannya semua peranan dan
perjuanganku sebagai seorang perempuan sekaligus ibu rumah tangga suatu hari
nanti akan menjadi suatu ibadah yang tak ternilai balasannya. Memberikan
sedikit inspirasi dan kemantapan hati pada semua wanita agar tidak terbesit
keraguan untuk menjadi manusia yang amanah sesuai dengan kodrat yang
sesungguhnya. Utamanya segala sesuatu pasti akan ada baik dan buruknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar