Seperti biasanya minggu malam agaknya menjadi malam yang sedikit panjang
Aktifitas dari beberapa orang masih terus berjalan hingga selarut ini
Kupandangi seberang jalan tepat dikostan ku tercinta
Dari balik jendela kamar kudapati beberapa pasang muda - mudi nampak bergandengan tangan
Dengan raut wajah yang berseri seakan begitu menikmati malam yang menurutku kian sepi
Disudut kanan tepat disamping rumah tinggal sementaraku beberapa putra dan putri sedang asyik berbincang sembari memainkan gitar yang mereka petikan kemudian bernyanyi riang
Aku turut menikmatinya , meskipun sesekali aku juga merasa terganggu
Hiruk pikuk kota yang kutinggali ini semakin malam semakin riuh gemuruh
Entah itu suara kendaraan roda dua maupun roda empat , pun suara teplakan sandal pejalan kaki yang ikut menyemaraki
Jarum jamku menunjukkan lewat tengah malam
Tapi masih saja ada yang mereka lakukan diluar sana
Dihamparan langit malam kota ini ada yang menyembul keluar mengintip malu - malu
Dia rembulan...
Nampaknya dia sedang menertawakanku yang hanya duduk seorang diri diujung malam dengan bintang gemintang
Aku tersipu malu lantas kutundukkan pandanganku
Memang benar , malam ini dan beberapa hari sebelum malam ini aku sedang dirundung sepi
Kehampaan begitu terasa menyelimuti
Bukan aku tak berteman , hanya saja aku merasa bosan
Aku memandangi temanku yang sudah terlelap sejak tadi , sepertinya ia tertidur pulas
Aku sendiri kebingungan , mengapa sampai lewat tengah malam aku belum juga terpejam
Mataku masih saja bundar , tanpa kantuk sedikitpun
Aku fikir minggu malam ini tak banyak arti
Sebabnya hatiku belum terisi dan terasa sepi
Jejangkrik yang biasanya mengikrikpun tak malam ini tak kudengar suaranya
Yang ada hanya semilir angin yang setia menemaniku
Aku mengambil mantel rajutan ibuku yang berwarna merah jambu
Kubalutkan ditubuhku yang mulai merasa beku
Dengan harapan dinginku akan segera berlalu
Lagi - lagi aku tak kunjung berhasil mengendalikannya
Aku beranjak dari kamarku kemudian berjalan menuju dapur lalu membuat secangkir kopi hangat
Kunyalakan televisi sembari menikmati kopi khas buatanku
Sunyi semakin terasa dan sepi kian menghampiri
Kuredupkan lampu ruang tengahku
Kubaringkan tubuhku disofa empuk itu
Kucoba paksa untuk memejamkan mata
Kututupi setengah badanku dengan selimut baruku
Terasa hangat dan kantukku menggelayut rindu
Sejenak aku terpejam
Tanpa ada siapa - siapa disampingku
Sepi sendiri seorang diri
Sang bayu kapan engkau akan datang menemani senja yang bertabur jingga manis...
Siapapun kamu selalu kutunggu dipusara rinduku...
Segeralah , sebelum hatiku yang hampa tergerus masa...
Minggu ketiga dibulan november , sembari menikmati alunan suara dikomedi putar yang belum juga usai
Puisi ketiga yang dipesan seorang sahabat....
Selamat membaca....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar