Kamu adalah apa yang aku tulis , tapi aku adalah yang selalu luput kamu baca

Toad Jumping Up and Down

Minggu, 01 Desember 2013

#Rumah_Sunyi Bukit empat mimpi




Sepeninggal malam , fajar menyingsing menjemput pagi
Mengusir senyap menghadirkan riuh gemuruh
Mengusikku yang masih terbaring diperaduan
Kuusir kantuk lalu kubulatkan mata dan pandanganku

Diatas sana cahaya orange memantul membias mega
Mengeringkan embun basah sisa – sisa hujan seperempat jam yang lalu
Dari kaca jendela , kulihat segerombolan anak berkerumun dibalik bukit dipulau ini
Sepertinya anak – anak itu sedang menatap pelangi yang muncul dari kejauhan
Mereka nampak bahagia menebar gelak tawa

Bicara bahagia aku pernah berada pada sepenggal cerita bersamanya
Merajut rasa melafal asa
Tapi dipersimpangan itu kita terpisah berbeda arah

Awal dari sejarah peristiwaku...
Kubuka gerbang yang telah sejak lama mengungkung langkahku
Satu tarikan nafas pertama dengan goresan kosong
Menghancurkan batu sandungan yang menghadangku yang sedang membawa sebongkah mimpi dan harapan
Aku menjadi pemandu ragaku menapakkan jejak pertama dititian panjang

Dalam sebuah mimpi kecilku terlukis jelas sebuah tempat persinggahan berornamen putih lengkap dengan bunga dan hiasannya
Berpenghuni sepasang muda – mudi bak pangeran dengan seorang puteri
Aku melambatkan derap langkahku
Kemudian melayangkan senyum tipis diujung bibir entah pada siapa
Ah... itu mimpi pertamaku...

Kembali kudaki dataran luas tak berpenghuni
Yang kudengar hanya nyanyian sumbang yang menggetarkan sukma jiwa
Angin semilir seraya menyindir
Menertawakanku yang layu menitih jalan bertalu – talu

Seperti kehilangan arah , kakiku tiba – tiba terhenti berhenti melangkah
Aku bertengger diberingin tua nyaris sesak tak bernafas
Ribuan guyuran hujan membasahiku yang hanya berbalut baju berwarna merah jambu
Ku ikat rambut ikalku dengan sebuah jepit rambut bermotif ukiran hati
Bagai burung yang baru saja terlepas dari sangkarnya

Aku ketakutan
Sunyi menyikap hati
Gundah mengundang resah
Duduk sendiri berkawan sepi demi sebuah harapan dan sepucuk mimpi

Tak sadar aku dibuat mimpi oleh dingin yang menjadi
Tepat dipersinggahan yang menjadi mimpi mungilku
Seseorang menghadiahiku sebuah bilik kosong berpenghuni buku dan sajak – sajak puisi
Disudut ruang itu tertulis Teruntuk penulis manisku berjemari lentik dengan sejuta kisah yang menggelitik
Sontak aku terbelalak menangis sejadi – jadinya

Tapi seperti ada yang menyentakku , memarahiku untuk tak terlena dan terpuruk lama – lama
Aku bergegas melanjutkan perjalananku dengan harapan akan sampai tepat diwaktunya
Jauh disebuah titik , bayanganmu menampakkan diri
Aku berlarian mengejar dan mencari dimana titik itu berotasi
Bak dilempar dengan kursi...
Aku tersungkur tak berarti , hampir mati...
Namun kupatri dalam hati , bahwa upayaku untuk meraih mimpi harus kudapati

Umpama harus menjadi debu , semangatku akan tetap menggebu
Meski dengan nafas yang kembang kempis tersengal – sengal
Ditambah airmata pilu dan peluh perjuangan bercampur menjadi satu

Aku menoleh ke sudut barat daya
Dibalik ilalang yang menjulang kudapati sebuah alat musik bertuts hitam dan putih teronggok tanpa pemusik
Kudekati , kuusap – usap lalu kucoba mainkan nada demi nada dengan ritmik yang menarik
Aku bertanya dalam hati...
Dibukit tak berpenghuni ini siapa yang memiliki benda berpenghasil suara tadi?

Mataku menatap nanar , aku melamun...
Dalam lamunanku puncak bukit nampak menyembul terbias cakrawala senja
Tapi diakhir langkahku menjemput mimpi mengapa badai tak jua turun dari tahta?
Mengapa halangan justru terasa semakin menikam dan mencoba membunuh segala usahaku?
Aku berusaha menelan masa lalu dan membawanya pergi agar segera ditelan samudera

Aku tertunduk bersujud dipusara bumi...
Kuteriakkan segala mimpi yang tertanam dihati
Kusuarakan semangat jiwa yang menggelora
Berharap dapat terdengar dari segala penjuru

Sisi lain ada yang menyeretku , menyulutkan lentera coba terangi jalanku
Tuhan... itukah Engkau?
Hadir membawa kesejukkan bagai oase ditengah hamparan gurun
Menghidupkan kembali sendi – sendi yang mulai meringkuk kaku

Namun masih dengan tertatih...
Langkah pemungkas masih terasa berat
Dan parahnya aku harus merangkak menuju puncak
Letih...  nyaris tak bernyawa...

Ku genggam erat rumput yang mengakar dibukit dimana aku merasakan segala sakit
Berharap ia membantuku menopang tulangku yang akan patah bertanding melawan tanah
Diseberang sana , tepat dipuncak bukit berjejer dua anak kecil berraut wajah sama persis
Dengan mata sayu lembut merajuk seolah siap menyambutku
Kudekati mereka , kusapa dan kubelai rambut hitamnya satu per satu

Yang satu menunjukkan ku kearah langit dengan telunjukknya
Kulihat pelangi berseri menyemai nurani diiringi arak – arak awan yang berkejar – kejaran
Yang satu lagi menunjukkanku kearah tepat dikaki bukit
Dan yang aku lihat disana hamparan lautan lepas dengan pantai yang kokoh melambai kerahku meminta agar aku menjadi kekasihnya

Pada puncaknya semua menandakan jika langkahku tidak akan terhenti mengikuti hingga batas langit mengakhiri
Mengarungi lautan melawan ombak yang siap menggulung semua mimpi
Hidup harus berlanjut dan tak boleh gugur diperjalanan
Kuangkat wajahku sedikit
Tersenyum manis dalam sebuah kemenangan

Dibawah senja , bersama Tuhan yang selalu menjadi penerang segala do’a dan pengharapan
Aku masih disini , menunggumu menahkodai kapal , berlayar lantas kembali kedermaga disisi bukit yang kusebut “ Bukit Empat Mimpi  “



#Rumah_Sunyi#Bait_Puisi



3 komentar: