Antara takut
dan iba , aku menghampirinya yang sedang berbaring ditempat tidur memeluk
sebuah guling . Raut wajah yang sendu , dengan mata sembab yang terus dialiri
airmata masih terlukis jelas . Dia citra , sahabat karibku .
Dia baru saja bertengkar hebat dengan
kekasihnya yang pada puncaknya dia ditinggalkan begitu saja setelah tiga tahun
menjalin hubungan . Aku mencoba membuka pembicaraan , berharap sapaanku bisa
sedikit menghibur kesedihannya . Tapi tak ada respon darinya . Yang ada hanya
sebuah tangisan yang kian menderu . Aku bingung . Aku fikir usahaku sia – sia
menasehatinya dengan segala kelembutan . Bukannya dia bangkit tapi justru
seolah kata – kataku memanjakannya untuk terus berada dititik keterpurukan .
Akhirnya aku memberanikan
diri untuk menaikkan nada bicaraku dengan sedikit hentakan . Bak orang yang tak
punya akal , aku berbicara panjang lebar dari A hingga Z . Bukan cemoohan
ataupun penghinaan , aku hanya berusaha membangkitkan semangatnya agar tak
terus bersedih . Namun semakin aku berbicara keras tangisannya justru semakin
membuncah . Aku berusaha untuk tidak memperdulikannya . Sejenak aku diam
menunggu respon apa yang akan dia tunjukkan kepadaku .
Dia
bangun kemudian menoleh kearahku . Mulailah dia menceritakan semua masalah yang
mengungkungnya . Tentang sebuah pengkhianatan , bahwa ada perempuan lain yang
ternyata mengganggu hubungannya dengan kekasihnya dulu . Sebuah pengkhianatan
yang terjadi dalam kurun waktu satu setengah tahun yang hasilnya laki – laki yang
dulu menjadi pacar temanku lebih memilih perempuan pengganggu itu . Sulit
diungkapkan bagaimana rasanya . Kecewa bercampur amarah , sedih juga pilu .
Aku
mengusap airmatanya lalu kukatakan bahwa seseorang yang telah melukainnya tidak
pantas untuk ditangisi secara berlebihan . Tuhan menciptakan kesedihan lengkap
dengan kebahagiaan sebagai balasannya . Bukankah hakikat hidup adalah menerima
dan menikmati semua yang telah Tuhan tuliskan untuk kita? Bukankah Tuhan juga
berjanji akan selalu bersama orang – orang yang mau melapangkan nuraninya
ditiap cobaan? Percayalah , Tuhan tidak ingkar . Pasti akan ada sejuta senyum
dibalik seribu tangisan .
Dia
menghentikan tangisannya dan memelukku dengan erat . Suasana kamar menjadi hening dan tenang .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar