Pukul delapan
pagi seberkas surya merangkak naik menyinari permadani
Gemericik air
ditengah ladang memecah keheningan
Desiran angin
sepoi – sepoi menggoyangkan ranting – ranting kecil dibatang pohon
Ayam masih
berkokok saling bersahutan
Anak – anak
burung pencakar langit berkicau berirama
Dibalik batu , puteri
malu menampakkan pesonanya
Tersipu malu
didekati sang elang
Hakikat Tuhan
menciptakan semesta dengan untaian penuh kesan
Mengundang decak
kagum dengan kata – kata yang tak mampu dibahasakan
Sebagai persembahan
untuk seluruh umat disegala penjuru dunia
Namun apa
gerangan yang terjadi hari ini , menit dan detik ini ?
Semua tak lagi
sama dan jelas perbedaannya
Beberapa waktu
yang lalu air dipantai pasir putih masih nampak berkilau jernih
Tapi hari ini sudah
menjadi pucat abu – abu
Alam permai nan
syahdu kini menjelma menjadi gugusan pelatara yang hampir sirna
Kilatan cahaya
tampak buram nyaris padam
Aku mengerutkan
dahi seakan tak meyakini
Duniaku
berubah...
Ia dirundung
pilu didera nestapa...
Bagai dihajar
bencana dahsyat...
Suara gemuruh
dari bangunan yang runtuh menambah kalut suasana
Gegunungan
memuntahkan isi perutnya
Lahar mengalir
membasmi daratan lepas
Meluluhlantakan
bumi pijakan kami
Alamku terlindas
tak berbekas
Hendak ku
selamatkan tapi aku takut ikut termakan
Zamrud
khatulistiwa tak lagi berwarna
Bak menginjak
jutaan duri , mungkin seperti itulah rasanya tersakiti
Terpungkiri
setelah dinikmati
Lantara perilaku
manusia yang tak punya hati
Bumiku nyaris mati...
Si pencuri
mencabik – cabik isi bumi
Merusak pijakan
sampai ketatanan tanah paling dalam
Dari balik
gundukan pasir , terlihat segerombolan semut merah keluar dari markasnya
Sepertinya marah
pada mereka yang hobi menjarah
Mungkin
gigitannya adalah satu bentuk pemberontakkan bahwa mereka tak rela tempat
berteduhnya diacak – acak tak karuan
Miris nian duhai bumiku...
Beginikah
akhirnya...
Aku harus
menghirup udara keruh bercampur abu
Yang bisa kapan
saja mematikanku saat rongga nafasku dipenuhi debu
Sementara
dibawah sini , kakiku terkubur lumpur
Terpenjara
harapan hampa
Bagai peri yang
kehilangan tongkatnya...
Jelas terpampang
ironi yang tak ada habisnya
Hening tak dapat
kutemu lagi
Tak ada hari
baru yang menenangkan juga menyejukkan
Rasa dahaga
merasuk raga , tapi tak ada pelepasnya
Semua terasa
pedas panas
Satu sama lain
seperti saling mengacuhkan tak bersahabat
Aku rindu semestaku dulu...
Aku rindu akan
semestaku yang mampu mengobati pilu
Bersabarlah
wahai alam semesta...
Dan kita yang
bukan siapa – sapa...
Tengoklah
dibawah sana ada yang merintih kesakitan diinjak – injak hanya agar kita tetap
bertahan
Dia berdarah
terluka parah
Tergolek lemah ,
terombang – ambing tak tau arah
Tengok barang
sebentar , tempat kita bersarang semakin diserang
Kenapa tidak
kita selamatkan saja sebelum akhirnya alam memilih untuk tidur panjang...
#Rumah_Sunyi#Bait_Puisi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar