Kamu adalah apa yang aku tulis , tapi aku adalah yang selalu luput kamu baca

Toad Jumping Up and Down

Minggu, 01 Desember 2013

#Rumah_Sunyi Senandung dilembah semesta



Pukul delapan pagi seberkas surya merangkak naik menyinari permadani
Gemericik air ditengah ladang memecah keheningan
Desiran angin sepoi – sepoi menggoyangkan ranting – ranting kecil dibatang pohon
Ayam masih berkokok saling bersahutan
Anak – anak burung pencakar langit berkicau berirama

Dibalik batu , puteri malu menampakkan pesonanya
Tersipu malu didekati sang elang
Hakikat Tuhan menciptakan semesta dengan untaian penuh kesan
Mengundang decak kagum dengan kata – kata yang tak mampu dibahasakan
Sebagai persembahan untuk seluruh umat disegala penjuru dunia

Namun apa gerangan yang terjadi hari ini , menit dan detik ini ?
Semua tak lagi sama dan jelas perbedaannya
Beberapa waktu yang lalu air dipantai pasir putih masih nampak berkilau jernih
Tapi hari ini sudah menjadi pucat abu – abu
Alam permai nan syahdu kini menjelma menjadi gugusan pelatara yang hampir sirna
Kilatan cahaya tampak buram nyaris padam

Aku mengerutkan dahi seakan tak meyakini
Duniaku berubah...
Ia dirundung pilu didera nestapa...
Bagai dihajar bencana dahsyat...
Suara gemuruh dari bangunan yang runtuh menambah kalut suasana
Gegunungan memuntahkan isi perutnya
Lahar mengalir membasmi daratan lepas
Meluluhlantakan bumi pijakan kami

Alamku terlindas tak berbekas
Hendak ku selamatkan tapi aku takut ikut termakan
Zamrud khatulistiwa tak lagi berwarna
Bak menginjak jutaan duri , mungkin seperti itulah rasanya tersakiti
Terpungkiri setelah dinikmati
Lantara perilaku manusia yang tak punya hati

Bumiku nyaris mati...

Si pencuri mencabik – cabik isi bumi
Merusak pijakan sampai ketatanan tanah paling dalam
Dari balik gundukan pasir , terlihat segerombolan semut merah keluar dari markasnya
Sepertinya marah pada mereka yang hobi menjarah
Mungkin gigitannya adalah satu bentuk pemberontakkan bahwa mereka tak rela tempat berteduhnya diacak – acak tak karuan

Miris nian duhai bumiku...

Beginikah akhirnya...
Aku harus menghirup udara keruh bercampur abu
Yang bisa kapan saja mematikanku saat rongga nafasku dipenuhi debu
Sementara dibawah sini , kakiku terkubur lumpur
Terpenjara harapan hampa
Bagai peri yang kehilangan tongkatnya...
Jelas terpampang ironi yang tak ada habisnya

Hening tak dapat kutemu lagi
Tak ada hari baru yang menenangkan juga menyejukkan
Rasa dahaga merasuk raga , tapi tak ada pelepasnya
Semua terasa pedas panas
Satu sama lain seperti saling mengacuhkan tak bersahabat

Aku rindu semestaku dulu...

Aku rindu akan semestaku yang mampu mengobati pilu
Bersabarlah wahai alam semesta...
Dan kita yang bukan siapa – sapa...
Tengoklah dibawah sana ada yang merintih kesakitan diinjak – injak hanya agar kita tetap bertahan

Dia berdarah terluka parah
Tergolek lemah , terombang – ambing tak tau arah
Tengok barang sebentar , tempat kita bersarang semakin diserang
Kenapa tidak kita selamatkan saja sebelum akhirnya alam memilih untuk tidur panjang...






#Rumah_Sunyi#Bait_Puisi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar