Tatapannya nanar kearah
luar pintu yang sengaja dibuka lebar . Wajahnya menyikap rindu dibalik
kesenduan . Ini malam kesekian belas kali ia duduk didipan reot menanti anaknya pulang lalu bersama – sama
meniup terompet dimalam pergantian tahun .
Nak...
Usiaku kini kian senja
Ajal kapan saja bisa menjemputku
Tidakkah kamu rindu pada sosokku
yang mengandungmu selama sembilan bulan?
Tidakkah kamu ingat pada aku yang
sempat menaruhkan nyawa untukmu?
Tidakkah kamu ingin mengusap
peluhku?
Dan tidakkah kamu menemuiku sebelum
aku terbaring kaku dipusara tanah
kelahiranmu?
kelahiranmu?
Disini , didekatku sudah kusediakan
pena
Siapa tau esok ketika kamu tiba aku
sudah tak bernyawa
Tulis saja semua yang ingin kamu
utarakan
Pasti akan kubaca dari atas sana
bersama iringan awan
Bisiknya lembut dari hati...
Tiba – tiba ada yang
datang mengetuk pintu , sontak ia terkejut lantas mengambil sebuah kayu teman
jalan yang selama ini setia menjadi pengganti satu kakinya . Dan harapannya
yang datang adalah putra semata wayangnya . Namun ia salah besar , rupanya seorang
anak muda yang berniat membeli terompet yang kini tak sempat ia jajakan
disepanjang jalan . Tak ada percakapan tawar menawar , yang nampak hanya
permainan sepuluh jari dengan bahasa isyarat .
Yaa , dia... seorang
ibu tua penyandang tuna wicara dengan satu topangan kaki yang mahir mencipta
terompet tak bersua... Seorang ibu tua yang mendamba sebuah terompetnya
disuarakan oleh anaknya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar